Perjalanan dari Keputusasaan Menuju Harapan
Di lantai delapan Modern Cancer Hospital Guangzhou, seorang wanita berusia tiga puluh dua tahun asal Jakarta memancarkan kehangatan dan kelembutan. Meskipun masih menjalani perjuangan melawan kanker payudara, Nurusiah Binti Sumar tetap menunjukkan ketenangan—mungkin karena keesokan harinya ia akan diperbolehkan pulang dan kembali berkumpul bersama keluarganya. Raut wajahnya yang lembut sama sekali tidak menunjukkan penderitaan yang telah ia lalui sepanjang perjalanan pengobatannya.
Diagnosis yang Menyakitkan dan Perjalanan Penyakit yang Tak Kunjung Berakhir
Tim perawat masih mengingat dengan jelas kedatangan Nurusiah pada 8 November 2012. Ia memasuki rumah sakit dalam kondisi sangat tertekan, dengan wajah yang tampak menahan beban dan sering meringis karena rasa sakit. Payudara kanannya mengalami kerusakan yang cukup parah, dengan luka terbuka yang mengeluarkan cairan kekuningan disertai bau tidak sedap—sebuah gambaran menyedihkan dari kondisi penyakit yang dialaminya.
Nurusiah mengingat kembali awal mula perjalanannya ketika menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, di mana dokter menemukan benjolan berukuran 2 sentimeter pada payudara kanannya. Hasil biopsi mengonfirmasi kekhawatiran terbesarnya: kanker payudara invasif dengan penyebaran ke kelenjar getah bening aksila. Dalam upaya mendapatkan pengobatan, ia pergi ke Malaysia untuk menjalani kemoterapi. Meskipun rangkaian obat intensif tersebut berhasil menghilangkan kelenjar getah bening yang terkena kanker, efek sampingnya sangat berat—muncul luka menyakitkan di mulut, sering terjadi mimisan, dan kondisi tubuhnya semakin melemah.
Yang lebih menyedihkan, enam bulan setelah menyelesaikan pengobatan berat tersebut, kanker kembali muncul dengan kondisi yang lebih agresif. Nyeri pada payudara semakin tidak tertahankan, puting mulai tertarik masuk ke dalam, dan kulit mulai mengalami ulserasi. Dampak psikologisnya pun sama beratnya dengan penderitaan fisik yang dialami: dihantui ketakutan akan kematian, ia terus bertanya-tanya apakah masih bisa hidup untuk menyaksikan anaknya yang baru berusia tiga tahun tumbuh dewasa. Keputusasaan mengancam untuk menguasai dirinya setiap saat.

Awal Baru dengan Perawatan Khusus
Bertekad untuk mencari pilihan pengobatan yang lebih maju, Nurusiah dan keluarganya melakukan riset mengenai berbagai rumah sakit di kawasan tersebut. Setelah mempertimbangkan dengan matang dan berdiskusi dengan orang-orang terdekat, mereka memilih Modern Cancer Hospital Guangzhou. Mereka berharap fasilitas ini dapat menawarkan solusi yang belum mereka dapatkan dari pengobatan sebelumnya.
Setibanya di rumah sakit, Nurusiah menjalani pemeriksaan pencitraan diagnostik secara menyeluruh dan berbagai evaluasi medis. Tim onkologinya—dipimpin oleh Dokter Zhang Weizhong dan dokter kepala Bai Haishan, dengan dukungan dari para spesialis lainnya—bekerja sama secara intensif untuk menyusun strategi pengobatan yang disesuaikan dengan kondisinya. Tujuan mereka adalah menyeimbangkan efektivitas terapi secara maksimal sekaligus meminimalkan efek samping yang berbahaya.
Pendekatan yang direkomendasikan menggabungkan dua teknologi minimal invasif mutakhir: terapi intervensi yang dipadukan dengan bedah krio Argon-Helium. Meskipun teknik-teknik ini masih asing baginya, Nurusiah tidak merasa cemas. Dokter Zhang menjelaskan secara menyeluruh mengenai prosedur tersebut, mekanisme kerjanya, serta sensasi atau hasil yang mungkin ia alami. Keterbukaan, profesionalisme, dan kepedulian tulusnya terhadap kondisi Nurusiah memberikan rasa percaya diri dan ketenangan.
Pilihan Sulit Namun Diperlukan
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Nurusiah menyelesaikan empat kali terapi intervensi yang dilanjutkan dengan satu prosedur bedah krioterapi. Hasilnya cukup menggembirakan: ukuran tumornya terus mengecil secara bertahap, dan kadar penanda tumor turun hingga di bawah 0,5—jauh dalam batas normal. Luka terbuka pada payudaranya mulai menutup dan mengalami penyembuhan.
Namun, untuk mencapai hasil jangka panjang yang lebih optimal dan meminimalkan risiko kekambuhan, tim medis merekomendasikan tindakan operasi: mastektomi radikal. Prosedur ini melibatkan pengangkatan seluruh payudara kanan, sekitar 5 cm jaringan kulit di sekitarnya, serta jaringan lemak di area tersebut. Dampaknya sangat besar dan tidak dapat dihindari—ia harus kehilangan payudara kanannya secara permanen.
Di usia tiga puluh dua tahun, menghadapi keputusan yang mengubah hidup ini menjadi ujian besar bagi keteguhan hati Nurusiah. Namun, ia menyadari bahwa pengorbanan ini merupakan jalan terbaik untuk bertahan hidup dan mendapatkan masa depan bersama orang-orang yang dicintainya. Dengan dukungan penuh dari suaminya serta kekuatan emosional dari keluarganya, ia memilih untuk menjalani operasi tersebut. Keberaniannya dalam mengambil keputusan ini mencerminkan prioritas terdalam dalam hidupnya: memiliki lebih banyak waktu bersama orang-orang yang paling ia cintai.
Pulang dengan Rasa Syukur
Prosedur operasi berjalan dengan sukses tanpa komplikasi. Saat waktu kepulangan semakin dekat, kebahagiaan Nurusiah terasa begitu nyata. Ia akan kembali bertemu dengan anak kecilnya—sebuah pertemuan yang sangat ia nantikan setelah satu setengah bulan harus jauh dari rumah. Kebahagiaan dalam momen reuni tersebut terasa lebih besar daripada segala kesulitan yang telah ia lalui.
Saat merenungkan perjalanannya, Nurusiah menyampaikan pandangannya dengan penuh ketulusan: “Meskipun saya telah kehilangan payudara kanan saya, saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga—kesempatan untuk membangun kembali kehidupan saya bersama keluarga. Ini adalah hadiah terbesar yang bisa saya minta. Saya selamanya berterima kasih kepada suami dan anak saya yang penuh kasih karena telah mendampingi saya sepanjang perjuangan ini, kepada tim dokter dan para spesialis luar biasa yang membimbing proses pengobatan saya, kepada para penerjemah yang menjembatani kendala komunikasi, kepada setiap perawat yang memberikan perawatan penuh kasih, serta kepada semua orang yang mendukung saya melalui doa dan semangat mereka.”
Kata-katanya menggambarkan sebuah kebenaran yang melampaui dunia medis: terkadang obat yang paling kuat adalah harapan, yang berakar pada cinta dan hubungan antarmanusia.



