Tekad Pasien Parkinson Berusia 70 Tahun
Mendefinisikan Ulang Arti Usia 70 Tahun
Pada usia tujuh puluh tahun, kebanyakan orang menganggap diri mereka telah memasuki masa lanjut usia. Namun bagi Sabadi, babak kehidupannya masih jauh dari selesai. Meskipun hidup dengan tantangan akibat penyakit Parkinson, ia menolak menyerah pada keterbatasan yang mungkin diterima oleh banyak orang. Walaupun kondisi fisiknya menghadirkan berbagai hambatan, tekadnya tetap kuat, dan ia terus meyakini bahwa kehidupan yang bermakna masih terbentang di hadapannya.

Para pengunjung di Pusat Penelitian dan Pengobatan Sel Punca Modern Hospital Guangzhou melihat seorang wanita yang penampilannya tidak mencerminkan kondisi medis yang dialaminya. Berpakaian rapi dan memancarkan semangat hidup, ekspresi Sabadi yang ceria serta pembawaannya yang penuh percaya diri sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia hidup dengan tiga masalah kesehatan. Berdiri berdampingan dengan staf rumah sakit dan seorang penerjemah, ia memancarkan energi yang seolah menentang usianya maupun diagnosis yang disandangnya.
Diagnosis yang Mengubah Segalanya
Sekitar satu tahun sebelum datang ke pusat pengobatan, Sabadi menerima diagnosis yang mengubah jalan hidupnya: penyakit Parkinson primer. Kabar ini terasa sangat berat karena sebelumnya ia telah hidup dengan dua penyakit kronis lainnya, yaitu diabetes tipe 2 dan hipertensi berisiko tinggi. Bagi banyak orang, diagnosis Parkinson saja sudah merupakan pukulan besar; terlebih lagi jika harus dihadapi bersamaan dengan masalah kesehatan yang sudah ada.
Harapan Sabadi semakin memudar setelah berkonsultasi dengan dokter di negara asalnya. Mereka menjelaskan bahwa meskipun obat-obatan dapat membantu mengendalikan beberapa gejala, pengobatan medis modern belum mampu menghentikan perkembangan penyakit Parkinson itu sendiri. Obat yang tersedia hanya berfungsi meredakan gejala, bukan menghentikan kerusakan saraf yang terus berlangsung. Menghadapi kenyataan tersebut, harapan pun terasa sangat terbatas.
“Selama setahun terakhir, saya rutin mengonsumsi obat yang diresepkan oleh dokter,” kenang Sabadi. “Mereka menjelaskan bahwa pengobatan yang ada saat ini hanya dapat membantu mengurangi gejala yang saya rasakan, tetapi tidak dapat memperlambat ataupun menghentikan perkembangan penyakit ini.”
Secercah Harapan: Menemukan Terapi Sel Punca
Bertekad untuk mencoba setiap pilihan pengobatan yang tersedia, Sabadi mulai mengenal terapi sel punca—sebuah pendekatan yang pada dasarnya berbeda dari pengobatan konvensional. Pada 4 April, ia berangkat ke Modern Hospital Guangzhou untuk mencari tahu apakah terapi inovatif ini dapat memberikan harapan yang tidak mampu diwujudkan oleh pengobatan sebelumnya.
Saat tiba di rumah sakit, kondisi Sabadi telah memburuk. Selama sekitar delapan belas bulan, ia mengalami tremor yang cukup berat dan gerakan yang semakin lambat, gejala khas penyakit Parkinson. Penderitaannya semakin bertambah dengan insomnia berat yang telah berlangsung selama satu bulan, membuat tubuhnya kelelahan dan energinya terkuras. Kombinasi berbagai gejala tersebut telah menurunkan kualitas hidupnya secara signifikan.
Di rumah sakit, tim dokter memberikan penjelasan mendetail mengenai cara kerja terapi sel punca dalam menangani penyakit Parkinson. Mekanismenya sangat menjanjikan karena sel punca memiliki kemampuan untuk memperbaiki jaringan saraf yang rusak. Secara khusus, sel-sel tersebut menargetkan dan membantu memulihkan sel-sel penghasil dopamin di area substantia nigra pada otak, yaitu bagian yang paling terdampak oleh penyakit Parkinson. Dengan memperbaiki dan meregenerasi sel-sel khusus tersebut, terapi sel punca membantu mengembalikan kadar dopamin sehingga secara langsung mengurangi gejala seperti tremor, kekakuan otot, dan gerakan yang melambat.

"Yang perlu saya lakukan sekarang hanyalah bersabar dan percaya pada prosesnya," ujar Sabadi dengan penuh keyakinan. "Saya telah mempelajari banyak penelitian mengenai teknologi sel punca, dan penjelasan yang diberikan oleh Dr. Pang Xiaodong beserta tim medis di sini benar-benar membuat saya yakin. Saya menaruh kepercayaan penuh kepada para ahli dan pengetahuan yang mereka miliki."
Pengobatan Dimulai dan Hasil Mulai Terlihat
Setelah dirawat di rumah sakit, Sabadi menjalani konsultasi menyeluruh dengan tim multidisiplin yang terdiri dari para spesialis dari Modern Hospital Guangzhou dan institusi medis mitra. Para ahli tersebut bekerja sama menyusun rencana pengobatan yang dipersonalisasi sesuai dengan kondisi dan riwayat kesehatannya. Terapi sel punca pertamanya diberikan pada 9 April.
Perbaikan setelah pengobatan pertama mulai terlihat dengan jelas dan memberikan harapan. Tremor yang telah lama mengganggunya mulai berkurang secara signifikan. Kemampuan bergerak, berbalik, dan mengubah posisi tubuh juga mengalami peningkatan yang nyata—gerakan yang sebelumnya lambat dan sulit kini terasa lebih lancar. Yang paling berarti, insomnia kronis yang selama ini mengganggu tidurnya dan menguras energinya mulai teratasi. Perbedaan antara kondisinya saat pertama kali dirawat dan kondisinya beberapa waktu setelah menjalani pengobatan tampak sangat jelas dan tidak dapat disangkal.
Usia Bukan Penghalang untuk Pulih
Sabadi menyadari bahwa keputusannya mungkin akan menimbulkan keraguan dari orang lain. “Saya paham mungkin ada yang menganggap aneh seorang perempuan berusia 70 tahun, dengan berbagai penyakit yang saya derita, rela menempuh perjalanan jauh demi menjalani pengobatan untuk penyakit yang seberat Parkinson,” ungkapnya dengan jujur. Namun, alih-alih membiarkan keraguan menentukan langkahnya, ia memilih jalan yang berbeda: tetap optimis secara realistis dan terus berjuang.
Di usia 70 tahun, Sabadi memahami bahwa hidup dan waktu adalah anugerah yang sangat berharga. Ia tidak ingin menghabiskan sisa usianya dengan menyerah pada disabilitas yang terus memburuk. Ia ingin tetap mandiri, menjalani aktivitas yang bermakna, dan menikmati setiap momen bersama keluarganya. Keputusan untuk mencari pengobatan inovatif bukanlah tindakan yang tergesa-gesa, melainkan pilihan yang lahir dari tekad kuat untuk mempertahankan kualitas hidup yang masih ingin ia nikmati.
Perjalanan Sabadi menunjukkan sebuah kenyataan penting bahwa kegigihan dan tekad tidak mengenal batas usia. Kesediaannya untuk mencoba pilihan pengobatan baru, dipadukan dengan penolakannya untuk menyerah, menjadi fondasi utama dalam perjuangannya. Bagi pasien luar biasa ini, usia bukanlah penghalang untuk melawan penyakit Parkinson, melainkan pengingat bahwa masih banyak kehidupan yang layak diperjuangkan.



