Kanker Payudara

Bagaimana Terapi Minimal Invasif Mengubah Perjalanan Saya Melawan Kanker Payudara

Bagaimana Terapi Minimal Invasif Mengubah Perjalanan Saya Melawan Kanker Payudara

Penemuan yang Tak Terduga

Pada September 2015, saat sedang mandi, saya merasakan adanya benjolan kecil yang tidak menimbulkan rasa nyeri di payudara kiri. Ukurannya sekitar 2 sentimeter. Awalnya, saya mengabaikan temuan tersebut dan memilih untuk tidak memberi tahu keluarga agar mereka tidak khawatir. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa benjolan itu perlahan semakin membesar.

Dua minggu setelah menemukan benjolan tersebut, saya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan setempat untuk menjalani pemeriksaan USG. Hasilnya memastikan bahwa saya menderita kanker payudara. Dokter menyarankan pengobatan konvensional berupa kemoterapi yang dilanjutkan dengan radioterapi, tetapi saya menolak pilihan tersebut. Operasi juga ditawarkan sebagai salah satu alternatif pengobatan. Karena tidak ingin menjalani metode pengobatan konvensional tersebut, saya bersama keluarga mulai mencari pilihan terapi lainnya.

Mencari Alternatif Pengobatan

Kami mencari berbagai pilihan pengobatan di beberapa rumah sakit. Kami mempertimbangkan pengobatan di Rumah Sakit Universitas Sun Yat-sen dan juga berkonsultasi dengan dokter spesialis di Fuda Cancer Hospital. Di tengah proses tersebut, suami saya menemukan informasi mengenai St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. Kehadiran kantor perwakilannya di Jakarta memberi kami secercah harapan baru.

Saat mengunjungi kantor perwakilan di Jakarta, saya bertemu dengan banyak pasien lain yang kondisinya tampak jauh lebih parah dibandingkan saya. Namun yang membuat saya terkesan, banyak dari mereka menunjukkan hasil pengobatan yang sangat baik. Beberapa bahkan telah mencapai remisi dan tetap dalam kondisi sehat selama lebih dari sepuluh tahun. Pengalaman mereka semakin menguatkan keyakinan saya untuk menjalani pengobatan di rumah sakit ini.

Hal yang paling membuat saya yakin adalah ketika mengetahui bahwa rumah sakit ini memiliki delapan belas metode terapi minimal invasif yang canggih. Berbeda dengan pengobatan konvensional yang sebelumnya saya tolak, terapi-terapi tersebut menawarkan keunggulan karena meminimalkan trauma pada tubuh serta menghindari efek samping yang umumnya ditimbulkan oleh terapi tradisional seperti kemoterapi dan radioterapi.

Tiba di Rumah Sakit

Saya mulai menjalani pengobatan pada 31 Oktober 2015. Saat pertama kali tiba, saya merasa sangat cemas hingga sulit tidur. Selain itu, saya juga merasakan ketidaknyamanan pada kaki dan bagian leher. Ketika staf rumah sakit memberi tahu bahwa rumah sakit ini telah memperoleh akreditasi JCI serta mendapat pengakuan atas kualitas layanan medisnya, rasa cemas saya mulai berkurang. Profesionalisme dan keahlian para dokter maupun perawat membuat saya merasa jauh lebih tenang.

Rencana Pengobatan yang Disesuaikan dan Proses Pemulihan

Tim multidisiplin yang terdiri dari berbagai dokter spesialis menyusun rencana pengobatan yang dipersonalisasi sesuai dengan kondisi saya. Rencana tersebut menggabungkan dua metode utama, yaitu operasi pengangkatan payudara kiri dan beberapa sesi Terapi Intervensi Minimal Invasif. Saat prosedur dimulai, saya merasa sangat gugup. Namun, seiring berjalannya pengobatan, saya mulai merasa lebih tenang dan nyaman menjalani setiap prosesnya.

Perbaikan kondisi mulai terlihat sejak awal pengobatan. Setelah setiap sesi terapi, kondisi saya terus membaik secara bertahap. Memasuki sesi ketiga Terapi Intervensi Minimal Invasif, sebagian besar gejala dan keluhan fisik yang saya alami telah berkurang secara signifikan. Saya juga merasakan peningkatan kondisi tubuh dan energi. Kini, setelah menjalani empat sesi Terapi Intervensi Minimal Invasif, ukuran tumor terus mengecil dan tetap terkendali.

Merebut Kembali Hidup Saya

Perubahan yang saya rasakan bukan hanya pada kondisi fisik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Selama menjalani pengobatan, saya kembali memiliki kepercayaan diri dan mampu beraktivitas secara mandiri. Saya mengunjungi Canton Tower, berjalan-jalan di Tianhe Garden, dan menikmati suasana Beijing Road. Orang-orang yang mengenal saya bahkan mengatakan bahwa melihat kondisi saya sekarang, seolah-olah saya tidak pernah mengalami penyakit yang begitu serius. Perbedaan antara diri saya yang dulu dipenuhi kecemasan dengan kondisi saya saat ini benar-benar luar biasa.

Kepada siapa pun yang sedang menghadapi diagnosis kanker payudara, saya ingin menyampaikan satu pesan: peluang untuk pulih selalu ada jika mendapatkan penanganan medis yang tepat. Saya adalah seorang pejuang yang berhasil melawan kanker payudara, dan saya berharap setiap pasien juga berani menghadapi perjuangannya dengan penuh keberanian dan tekad. Pola pikir yang positif, disertai akses terhadap pilihan pengobatan yang tepat, dapat membawa perubahan besar terhadap harapan kesembuhan dan kualitas hidup.

Patient Profile

Nama
Tjioe A Tjoeak
Usia
Negara
Indonesia
Tipe
Kanker Payudara
Kondisi
Awalnya muncul benjolan yang tidak menimbulkan rasa nyeri, namun ukurannya terus membesar seiring waktu. Pasien memilih untuk tidak menjalani terapi konvensional.
PengobatanPengobatan
Terapi Intervensi Minimal Invasif dan eksisi payudara kiri.
Hasil
Tumor berangsur-angsur menyusut dan berhasil dikendalikan dengan baik. Kondisi pasien pulih dengan baik, serta kemampuan bergerak kembali normal. Select 81 more words to run Humanizer.

Konsultasi Medis Gratis

Dapatkan Rencana Pengobatan yang Dipersonalisasi

Tim Multidisciplinary Team (MDT) kami akan meninjau kondisi Anda secara menyeluruh dan memberikan second opinion serta rekomendasi rencana pengobatan yang dipersonalisasi tanpa biaya.
Jadwalkan Konsultasi
Mulai Hari Ini

Siap Mulai Pengobatan Anda?

Koordinator pasien kami siap 24/7 meninjau diagnosis Anda, menjelaskan teknologi sesuai, dan mengatur konsultasi multidisiplin gratis.
Jadwalkan Konsultasi Gratis

Bagaimana Terapi Minimal Invasif Mengubah Perjalanan Saya Melawan Kanker Payudara

Introduction

Pengalaman Medis

Bidang Penelitian

Jadwalkan Konsultasi