Tetap Mempertahankan Penglihatan dan Senyumnya: Perjuangan Seorang Wanita Malaysia Melawan Kanker Kelenjar Parotis
Tidak semua kisah perjuangan melawan kanker diceritakan langsung oleh pasien—terkadang, kisah tersebut disampaikan oleh dokter yang menyaksikan sendiri kegigihan pasien untuk tidak menyerah. Berikut adalah kisah yang dituturkan oleh Prof. Peng Xiaochi, seorang ahli onkologi terkemuka di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou, mengenai Chan Pui Ling, wanita berusia 34 tahun asal Malaysia yang datang menemuinya setelah dua kali menjalani operasi, tetapi kanker kelenjar parotis yang dideritanya tetap menyebar hingga mendekati mata.

Benjolan yang Awalnya Disangka Peradangan
Prof. Peng mengenang bahwa saat pertama kali memeriksa Pui Ling, wajahnya tampak bengkak dan tidak simetris, sementara bola mata kanannya menonjol keluar sehingga sulit membaca ekspresi wajahnya. Kondisi tersebut bermula beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada November 2015, ketika muncul benjolan berukuran sekitar 2 × 3 cm di belakang telinga kanannya. Atas saran dokter setempat, benjolan itu awalnya dianggap sebagai peradangan biasa dan ditangani sebagai kondisi tersebut. Namun, karena benjolan terus membesar meskipun telah menjalani pengobatan, dilakukan biopsi yang akhirnya mengungkap penyebab sebenarnya: kanker kelenjar parotis.
Dua Kali Operasi, Dihadapi Seorang Diri
Ia menjalani operasi pertama pada Februari 2016. Namun, pada bulan Maret, muncul benjolan kedua di dekat trakea leher sebelah kanan sehingga ia harus kembali menjalani operasi. Hasil pemeriksaan patologi setelah operasi kedua memastikan bahwa kanker yang berasal dari kelenjar parotis telah menyebar ke jaringan di lehernya.
Alih-alih membebani keluarganya dengan kekhawatiran, Pui Ling memilih menjalani kedua operasi tersebut tanpa memberi tahu mereka kondisi yang sebenarnya. Seperti yang ia ungkapkan, ia hanya memutuskan untuk mempercayai rekomendasi para dokternya dan yakin semuanya akan berjalan dengan baik. Setelah operasi, ia menjalani kemoterapi. Yang luar biasa, ia tetap bekerja setiap hari selama menjalani pengobatan hingga efek samping yang terus menumpuk akhirnya memaksanya mengurangi jam kerja menjadi setengah hari.

Ketika Kanker Menyebar ke Mata
Pui Ling menyelesaikan rangkaian kemoterapinya pada Agustus 2016. Namun, pada Oktober, ia mulai merasakan mata kanannya semakin sulit digerakkan dan mengalami penglihatan ganda. Pemeriksaan lanjutan mengonfirmasi ketakutan terbesarnya: kanker kelenjar parotis telah menyebar ke jaringan di sekitar matanya.

Saat itu, dokter merekomendasikan pengangkatan bola mata sebagai pilihan penanganan yang dianggap paling tepat. Mereka juga menjelaskan secara terbuka kemungkinan konsekuensinya, termasuk berkurangnya kemampuan Pui Ling untuk menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri akibat perubahan penglihatan yang akan terjadi. Prospek tersebut membuat Pui Ling merasa sangat takut. Untuk pertama kalinya, ia akhirnya membuka diri kepada keluarganya mengenai kondisi yang sedang dihadapinya. Sang kakak kemudian mendorongnya untuk mencari pilihan pengobatan lain, sebuah pencarian yang pada akhirnya membawanya bertemu dengan Prof. Peng.
Memilih Terapi Intervensi Demi Menyelamatkan Mata
Pui Ling datang ke Guangzhou seorang diri. Prof. Peng mengingat bahwa pada awalnya ia mengira pertemuan pertama mereka akan dihabiskan untuk menenangkan dan membangun kepercayaan diri seorang perempuan muda yang ketakutan. Namun, yang ditemuinya justru sosok yang jauh lebih tegar daripada yang ia bayangkan.
Setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisinya, tim multidisiplin (MDT) bersama Prof. Peng sepakat bahwa terapi intervensi merupakan pilihan pengobatan yang paling tepat. Terapi ini adalah prosedur minimal invasif yang dilakukan dengan panduan pencitraan medis, di mana obat kemoterapi dialirkan langsung ke pembuluh darah yang menyuplai tumor melalui infus arteri. Karena obat terkonsentrasi langsung di area tumor, bukan beredar ke seluruh tubuh, konsentrasi obat di lokasi tumor dapat mencapai 2 hingga 80 kali lebih tinggi dibandingkan kemoterapi sistemik. Hal ini memungkinkan terapi menargetkan sel kanker dengan jauh lebih efektif.
Hasilnya pun terlihat dengan cepat. Hanya tiga hari setelah sesi pertama terapi intervensi, tumor di sekitar mata kanan Pui Ling tampak menyusut secara nyata. Setelah menyelesaikan sesi keempat, hampir tidak terlihat lagi adanya kelainan pada wajahnya.

Menemukan Keluarga Kedua di Ruang Perawatan
Selama menjalani pengobatan di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou, Pui Ling tetap aktif dan mudah bergaul. Setiap kali memiliki waktu luang, ia sering mengobrol dengan dokter dan perawat hingga menjalin hubungan yang akrab dengan tim medis. Meskipun setiap sesi terapi intervensi mengharuskannya beristirahat di tempat tidur selama 12 jam setelah prosedur, ia selalu menyampaikan rasa terima kasih kepada para perawat yang merawatnya.
Ketika mengetahui ada pasien lain—seorang perempuan yang sedang menjalani pengobatan kanker nasofaring—yang juga datang seorang diri, Pui Ling meminta agar mereka dapat dirawat dalam satu ruangan agar bisa saling mendukung dan menyemangati selama menjalani pengobatan. nasopharyngeal cancer — had also arrived alone, Pui Ling asked if the two of them could stay together, hoping they could support and encourage one another through treatment.
Saat kembali ke rumah sakit untuk kunjungan pengobatan yang keempat, Pui Ling sudah menganggap tempat itu layaknya rumah kedua. Dokter, perawat, dan sesama pasien pun terasa seperti keluarga besarnya. Seperti yang diungkapkannya sendiri, ia percaya bahwa memperlakukan orang lain dengan kebaikan adalah kunci untuk menjalani hidup yang benar-benar bahagia.

Refleksi Seorang Dokter
Prof. Peng menutup kisah ini dengan penuh kebanggaan. Menurutnya, Pui Ling adalah sosok yang kuat, pemberani, dan berhati baik. Ia juga menegaskan bahwa seiring meningkatnya jumlah kasus kanker di seluruh dunia dan penyakit ini semakin menjadi tantangan bersama bagi masyarakat, respons yang tepat bukanlah diliputi rasa takut, melainkan menghadapinya dengan keberanian. Bahkan saat berjuang melawan kanker, seseorang tetap dapat menjalani kehidupan yang bermakna dan memuaskan.
Poin-Poin Penting dari Kasus Ini
- Benjolan awal pada kelenjar parotis sempat didiagnosis sebagai peradangan sebelum biopsi memastikan bahwa benjolan tersebut merupakan kanker.
- Kanker kambuh dan menyebar ke leher meskipun pasien telah menjalani dua kali operasi.
- Penyebaran kanker ke jaringan di sekitar mata menempatkan pasien pada risiko kehilangan bola mata kanan.
- Terapi intervensi (infus arteri) memungkinkan obat mencapai konsentrasi 2–80 kali lebih tinggi secara langsung di lokasi tumor dibandingkan kemoterapi sistemik.
- Penyusutan tumor yang terlihat secara nyata terjadi hanya dalam 3 hari setelah sesi terapi pertama.
- Setelah sesi terapi keempat, pembengkakan pada wajah dan pergeseran posisi mata hampir sepenuhnya membaik, sehingga bola mata pasien berhasil dipertahankan.




