Kanker Nasofaring

Perjuangan Peng Kooi Melawan Kanker Nasofaring Stadium Lanjut

Dari Kursi Roda hingga Pulih: Perjuangan Peng Kooi Melawan Kanker Nasofaring Stadium Lanjut

Titik Balik yang Mengubah Segalanya

Pada Mei 2014, Peng Kooi, seorang pasien asal Malaysia, mulai menyadari adanya bercak darah pada air liurnya. Saat memeriksakan diri ke dokter setempat, keluhan tersebut dianggap hanya sebagai iritasi ringan pada tenggorokan yang akan sembuh dengan sendirinya. Awalnya Peng Kooi menerima penjelasan tersebut, tetapi gejalanya tidak kunjung membaik, bahkan semakin sering muncul. Melihat kondisi suaminya, sang istri mulai khawatir bahwa penyebabnya mungkin lebih serius. Ia pun mendorong Peng Kooi untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan).

Setelah menjalani pemeriksaan pencitraan dan biopsi, hasilnya memastikan bahwa Peng Kooi menderita kanker nasofaring ganas. Alih-alih larut dalam ketakutan, Peng Kooi memilih menghadapi diagnosis tersebut dengan tenang dan penuh tekad. Ia mengungkapkan pandangannya: "Saat menerima diagnosis kanker nasofaring, saya tidak merasa takut. Menurut saya, kanker bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapinya dan menjaga pola pikir tetap positif. Saya memutuskan untuk menghadapi tantangan ini dengan optimisme dan menerima kenyataan dengan lapang dada."

Jalan yang Dipilih dan Konsekuensinya

Ketika dokter onkologi di Malaysia menyarankan kemoterapi konvensional, Peng Kooi menolak anjuran tersebut. Ia khawatir dengan metode pengobatan yang tersedia saat itu, karena menurutnya kemoterapi tidak hanya menghancurkan sel kanker, tetapi juga sel-sel sehat sehingga dapat menimbulkan efek samping yang berat. Sebagai gantinya, seorang temannya menyarankan pengobatan alternatif yang diklaim mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan menghilangkan kanker tanpa menimbulkan efek samping yang berbahaya.

Keluarganya menyatakan kekhawatiran yang besar terhadap pilihan tersebut karena pengobatan itu belum memiliki bukti ilmiah maupun melalui pengujian yang memadai. Meskipun keluarganya telah berulang kali membujuknya, Peng Kooi tetap yakin dengan keputusannya dan menjalani pengobatan alternatif tersebut. Namun, setelah satu tahun mengonsumsinya, kondisinya tidak kunjung membaik, justru semakin memburuk. Tubuhnya menjadi semakin kurus, dan muncul dua benjolan di kedua sisi lehernya yang terus membesar hingga mengeluarkan cairan. Ia juga mulai mengalami kesulitan berbicara dan menelan yang semakin parah.

Titik Balik

Ketika kondisi Peng Kooi semakin memburuk dan keluarganya hanya bisa menyaksikan tanpa mampu berbuat banyak, secercah harapan muncul pada Oktober 2016. Kakak iparnya menemukan St. Stamford Modern Cancer Hospital melalui media sosial dan membaca berbagai kisah pasien yang membuktikan efektivitas terapi kanker minimal invasif. Saat itu, rumah sakit tersebut mengadakan seminar edukasi antikanker di Malaysia, dan ia pun mendaftarkan diri untuk mengikutinya. Setelah menghadiri seminar tersebut, ia dengan antusias menyarankan agar Peng Kooi mempertimbangkan terapi minimal invasif sebagai salah satu pilihan pengobatan.

Karena sebelumnya Peng Kooi cenderung enggan menerima saran dari orang lain, ia awalnya belum merasa yakin. Namun, dorongan tulus dari kakak iparnya, ditambah rasa cintanya yang begitu besar kepada sang istri, perlahan mengubah pandangannya. Ia akhirnya mengambil keputusan penting untuk pergi ke Tiongkok menjalani pengobatan, dengan menganggap perjalanan itu sebagai kesempatan untuk menghabiskan waktu yang berharga bersama istri tercintanya, bukan semata-mata demi menjalani prosedur medis.

Evaluasi Kondisi dan Strategi Pengobatan yang Dipersonalisasi

Saat Peng Kooi tiba di St. Stamford Modern Cancer Hospital pada 13 Oktober 2016, ia datang dengan menggunakan kursi roda karena kondisinya telah memburuk akibat perkembangan penyakit. Saat itu, berat badannya hanya 39 kilogram dengan tinggi badan sekitar 1,7 meter. Tubuhnya tampak sangat kurus dan rapuh. Hasil pemeriksaan pencitraan menunjukkan adanya tumor nasofaring berukuran 6 × 4 sentimeter, disertai tumor berukuran 7 × 8 sentimeter di sisi kiri leher serta tumor yang jauh lebih besar, berukuran 13 × 9 sentimeter, di sisi kanan leher. Kondisi tumor yang sudah sangat lanjut membuatnya tidak lagi mampu berjalan sendiri, berbicara dengan jelas, maupun makan secara normal.

Dr. Liang Feilv dan Dr. Hu Xiliu melakukan evaluasi menyeluruh dan menemukan bahwa Peng Kooi mengalami cachexia kanker, yaitu kondisi penurunan berat badan dan massa otot yang berat disertai malnutrisi parah. Sindrom ini merupakan salah satu komplikasi paling serius pada kanker stadium lanjut. Data klinis menunjukkan bahwa sekitar setengah dari seluruh pasien kanker mengalami cachexia selama perjalanan penyakitnya, dan pada 10 hingga 25 persen kasus, kondisi ini berkontribusi langsung terhadap kematian.

Cachexia terjadi melalui dua mekanisme utama. Pertama, seiring pertumbuhan dan penyebaran tumor ganas ke organ lain, sel kanker mengonsumsi sejumlah besar nutrisi tubuh. Kedua, pada stadium lanjut, pasien sering kehilangan nafsu makan atau secara fisik tidak lagi mampu makan, sehingga terjadi kekurangan nutrisi yang berat. Akibatnya sangat serius: cachexia menyebabkan penurunan massa dan fungsi otot sekaligus melemahkan sistem kekebalan tubuh secara signifikan. Penurunan fungsi imun ini mempercepat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. Dalam kondisi fisik Peng Kooi yang sangat lemah, memulai terapi antikanker yang agresif justru akan memberikan beban yang terlalu berat bagi tubuhnya.

Tim Multidisiplin (Multidisciplinary Team/MDT) di rumah sakit kemudian menyusun rencana pengobatan yang dipersonalisasi dan dilakukan secara bertahap. Alih-alih langsung memulai terapi antikanker, satu bulan pertama difokuskan untuk memulihkan kondisi fisiknya melalui perawatan suportif, termasuk pengobatan tradisional Tiongkok (Traditional Chinese Medicine/TCM) dan rehabilitasi nutrisi. Pendekatan yang dilakukan secara bertahap ini membantu Peng Kooi memperoleh kembali nafsu makan, meningkatkan kualitas tidurnya, serta memperbaiki asupan protein dan fungsi sistem kekebalan tubuh, sehingga kondisinya lebih siap untuk menjalani prosedur terapi minimal invasif berikutnya.

Perubahan yang Luar Biasa

Hasil pengobatan mulai terlihat dalam waktu singkat. Dua hingga tiga hari setelah menjalani sesi pertama terapi intervensi, Peng Kooi merasakan benjolan di lehernya mengecil secara signifikan tanpa disertai efek samping. Setelah prosedur terapi intervensi kedua, benjolan di kedua sisi lehernya menghilang sepenuhnya. Dalam kurun waktu 10 minggu, Peng Kooi telah empat kali datang ke rumah sakit dan menjalani lima sesi terapi intervensi.

Hasil pengobatan bahkan melampaui harapan. Berat badan Peng Kooi meningkat dari 39 kilogram menjadi 55 kilogram, atau bertambah 16 kilogram dalam waktu sekitar tiga bulan. Ia kembali mampu bergerak secara mandiri dan tidak lagi memerlukan kursi roda. Tumor nasofaringnya juga menyusut hingga 60 persen. Yang lebih penting, nafsu makannya kembali normal, kualitas tidurnya membaik, serta kondisi mental dan kebugaran fisiknya mengalami peningkatan secara menyeluruh.

Rasa Syukur dan Pandangan Seorang Pasien

Peng Kooi mengungkapkan kepuasannya terhadap pengalaman selama menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Ia berkata, "Saya merasa benar-benar seperti di rumah selama berada di sini. Dokter dan perawat sangat profesional serta tulus dalam merawat pasien. Suasana rumah sakit juga hangat dan nyaman. Saya sangat ingin merekomendasikan terapi intervensi kepada pasien kanker lainnya. Terapi ini menghantarkan obat antikanker langsung ke area tumor sehingga dapat menyerang sel kanker secara tepat dan efektif, dengan hampir tidak menimbulkan efek samping. Hal yang paling mengesankan bagi saya adalah melihat perubahan luar biasa pada pasien lain. Banyak yang datang dalam kondisi kesehatan yang buruk saat pertama kali dirawat, tetapi setelah satu atau dua siklus pengobatan, kondisi mereka membaik secara signifikan. Rumah sakit ini layak mendapatkan kepercayaan dari pasien kanker di mana pun."

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada istrinya dan seorang pembimbing spiritual yang ia sebut sebagai guru asal India. Ia mengatakan, "Pembimbing spiritual saya telah menjadi sosok yang sangat berarti dalam hidup saya. Beliau terus meyakinkan saya bahwa saya bisa sembuh, sehingga memberi saya kepercayaan diri dan harapan. Selama menjalani perawatan di rumah sakit, saya selalu merasa beliau hadir mendampingi saya, dan hal itu membantu saya melampaui rasa sakit yang saya alami. Saya sangat bersyukur atas pengaruh beliau dalam hidup saya."

Menjelang kepulangannya dari rumah sakit, Peng Kooi mengatakan bahwa ia akan kembali ke Malaysia untuk menyelesaikan urusan bisnis yang telah menunggunya. Selain itu, Tahun Baru Imlek juga sudah semakin dekat sehingga ia dapat berkumpul kembali dengan keluarga besarnya dan merayakan hari raya bersama. Seluruh staf rumah sakit turut merasa bahagia atas pemulihannya yang luar biasa dan berharap kisahnya dapat menginspirasi pasien kanker lainnya untuk tetap memiliki harapan serta terus berjuang dalam menjalani pengobatan.

Patient Profile

Nama
How Peng Kooi
Usia
Negara
Malaysia
Tipe
Kanker Nasofaring
Kondisi
Tumor primer nasofaring berukuran 6 × 4 cm, tumor leher kiri 7 × 8 cm, dan tumor leher kanan 13 × 9 cm. Saat pertama kali dirawat, berat badan pasien hanya 39 kg dengan tinggi badan 1,7 meter, mengalami cachexia (malnutrisi berat), serta tidak mampu berjalan, berbicara dengan jelas, maupun makan secara normal.
PengobatanPengobatan
Terapi Intervensi Minimal Invasif (5 sesi selama 10 minggu), terapi bertarget gen, pengobatan tradisional Tiongkok (Traditional Chinese Medicine/TCM), dan terapi nutrisi.
Hasil
Dalam waktu sekitar 3 bulan, berat badan pasien meningkat dari 39 kg menjadi 55 kg, tumor nasofaring menyusut hingga 60%, kedua tumor di leher menghilang sepenuhnya, pasien kembali dapat berjalan tanpa kursi roda, nafsu makan dan kualitas tidur membaik, serta kondisi mental secara keseluruhan menjadi baik.

Konsultasi Medis Gratis

Dapatkan Rencana Pengobatan yang Dipersonalisasi

Tim Multidisciplinary Team (MDT) kami akan meninjau kondisi Anda secara menyeluruh dan memberikan second opinion serta rekomendasi rencana pengobatan yang dipersonalisasi tanpa biaya.
Jadwalkan Konsultasi
Mulai Hari Ini

Siap Mulai Pengobatan Anda?

Koordinator pasien kami siap 24/7 meninjau diagnosis Anda, menjelaskan teknologi sesuai, dan mengatur konsultasi multidisiplin gratis.
Jadwalkan Konsultasi Gratis

Perjuangan Peng Kooi Melawan Kanker Nasofaring Stadium Lanjut

Introduction

Pengalaman Medis

Bidang Penelitian

Jadwalkan Konsultasi