Tumor Sebesar Kelapa, Berpacu dengan Waktu: Bagaimana Terapi Intervensi dan Krioterapi Memberikan Kehidupan Kedua bagi Pasien Thailand
Hampir sembilan bulan berlalu sejak hari pertama Prasit Sumonta dirawat hingga akhirnya ia meninggalkan rumah sakit dalam kondisi dinyatakan sembuh. Saat mengingat kembali perjalanan tersebut, Prasit mengatakan bahwa kehidupan telah bersikap baik kepadanya sejak saat itu — ia menganggap angka sembilan sebagai semacam keberuntungan pribadi, karena angka tersebut juga menandai sudah berapa tahun ia hidup bebas kanker. Dalam budaya Tiongkok, angka sembilan dikaitkan dengan keabadian dan keberuntungan yang bertahan lama, dan Prasit merasa makna tersebut sangat sesuai dengan kisah hidupnya.
Kenangan tersebut muncul kembali pada November 2023, ketika Prasit kembali ke St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou untuk menghadiri acara reuni yang memberikan penghormatan kepada para penyintas kanker jangka panjang, yang diadakan untuk merayakan para pasien yang telah berhasil mengendalikan penyakit tersebut selama bertahun-tahun.

Dari Vonis Kematian Menuju Kesempatan Kedua
Prasit pertama kali didiagnosis kanker pada tahun 2011, di masa ketika ia tidak pernah membayangkan bahwa kata “panjang umur” suatu hari akan menggambarkan kehidupannya. Dokter di negara asalnya dengan jelas mengatakan bahwa kanker tenggorokannya sudah stadium akhir dan ia hanya memiliki waktu sekitar dua bulan untuk hidup. Ia menggambarkan ketakutan saat mendengar hitungan mundur tersebut — enam puluh hari terasa akan berlalu dalam sekejap, dan rasa takut meninggal akibat penyakit di tenggorokannya sendiri terus membebaninya.

Lebih dari satu dekade kemudian, memasuki tahun kesembilan masa remisinya, Prasit mengatakan bahwa kondisi kesehatannya stabil dan tidak ada keluhan berarti — dalam arti terbaik, ia hanya menjalani kehidupan biasa yang sehat. Ia berterima kasih kepada St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou yang telah memberinya kesempatan kedua, dan ketika berbicara tentang perjuangannya melawan penyakit tersebut saat ini, ia melakukannya dengan ketenangan dan keyakinan seseorang yang telah berhasil melewatinya.

Ingin meneruskan harapan itu kepada orang lain, Prasit kemudian mengunjungi pasien kanker payudara dan kanker usus di Thailand untuk berbagi kisahnya. Salah satunya adalah Anocha, seorang pasien kanker kolorektal yang begitu tersentuh setelah mendengar kisah Prasit dalam sebuah acara publik, hingga ia memutuskan untuk menjalani pengobatan di rumah sakit yang sama. Ia mengatakan kepada orang lain bahwa ia berharap dapat mengikuti jejak Prasit dan suatu hari menjadi seorang “bintang antikanker” seperti dirinya.
Tumor Sebesar Kelapa
Masalah ini bermula sekitar tahun 2010, ketika benjolan muncul di sisi kanan leher Prasit. Benjolan tersebut terus membesar hingga mencapai ukuran sebesar kelapa, dan akhirnya menembus permukaan kulit. Luka tersebut mengalami ulserasi, mengeluarkan darah, serta cairan berwarna putih. Rasa sakit yang terus-menerus membuat Prasit sering tidak bisa tidur, dan seiring waktu berat badannya turun sekitar 20 kilogram.
Ia mengingat satu malam yang sangat menakutkan ketika ia bermimpi tenggelam, lalu terbangun dan menyadari bahwa tumornya telah mengalami perdarahan hebat hingga pakaian dan tempat tidurnya basah oleh darah—ia seolah-olah terbaring di dalam genangan darahnya sendiri. Bertahun-tahun mengalami kondisi tersebut juga memberikan dampak psikologis; ia mulai memiliki kebiasaan berdiri di depan cermin, mengukur ukuran tumor dengan tangannya, sambil diam-diam berharap bahwa suatu hari tumor itu bisa menghilang begitu saja.
Ketika Pengobatan Konvensional Tidak Memberikan Hasil yang Diharapkan
Pada tahun 2011, Prasit secara resmi didiagnosis menderita kanker laring, dan dokter setempat memulai pengobatan dengan kemoterapi sistemik. Efek samping yang dialaminya cukup berat hingga membuatnya merasa takut setiap kali harus menjalani sesi pengobatan—muntah setelah setiap kali kemoterapi membuatnya bahkan merasa cemas untuk kembali masuk ke rumah sakit. Ketika kemoterapi tidak mampu mengendalikan penyakitnya, dokter kemudian menyarankan radioterapi, tetapi memperingatkan bahwa terapi tersebut kemungkinan besar akan menyebabkan seluruh gigi di sisi kanan mulutnya tanggal. Dokter pun menyarankan agar gigi-gigi tersebut dicabut terlebih dahulu untuk menghindari kerusakan yang lebih parah. Prasit menjalani pencabutan gigi tersebut, tetapi rencana radioterapi tersebut pada akhirnya tetap tidak dapat dilakukan, salah satunya karena antrean panjang di rumah sakit setempat.
Merasa putus asa dan khawatir terhadap efek samping pengobatan berikutnya, Prasit sempat menghentikan seluruh upaya pengobatan untuk sementara waktu. Ia hanya mengandalkan pengobatan rumahan dan perawatan diri sehari-hari, sementara kondisinya terus memburuk. Pada titik terendah inilah ia dan keluarganya pertama kali mengetahui tentang St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. Gagasan untuk menjalani pengobatan di luar negeri tumbuh perlahan, seperti benih yang mulai berkembang, hingga akhirnya berubah menjadi sebuah keputusan nyata.

Pengabdian Seorang Istri Melewati Tahun-Tahun Tergelap
Prasit mengetahui tentang rumah sakit tersebut dari sebuah surat kabar dan mencari informasi lebih lanjut secara online, tetapi ia dan keluarganya awalnya masih ragu apakah rumah sakit tersebut benar-benar terpercaya, serta khawatir mengenai biaya pengobatan di luar negeri. Setelah mempertimbangkan keputusan tersebut dengan matang, ia akhirnya mengikuti saran istrinya dan tiba di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou pada 12 Maret 2015—mempersiapkan diri secara mental menghadapi kemungkinan bahwa ia mungkin tidak akan pernah bisa kembali ke rumah.

Prasit secara terbuka mengakui bahwa istrinya adalah sosok yang membuatnya tetap bertahan hidup. Selama kurang lebih empat tahun, istrinya selalu berada di sisinya, mengganti perban dua atau tiga kali sehari dan menjalani masa sulit tersebut bersamanya. Karena tumor telah menekan saluran napas, kerongkongan, dan laringnya, ia hanya dapat mengonsumsi makanan cair; pernapasannya menjadi semakin berat dan suaranya berubah menjadi serak. Istrinya menghaluskan makanan menjadi bentuk cair dan memberinya makan melalui selang. Bersama-sama, mereka terus bertahan hingga akhirnya tersedia tempat baginya di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.
Pendekatan Tim Multidisiplin: Mengecilkan Tumor Sebesar Kelapa Menjadi Seukuran Telur
Perjalanan ke luar negeri menjadi titik balik dalam kisah Prasit. Ia kemudian menggambarkannya sebagai sesuatu yang luar biasa: setelah menjalani pengobatan selama lebih dari 20 hari, tumornya menyusut dari ukuran sebesar kelapa menjadi kira-kira seukuran telur, dan indera pengecapnya kembali hanya dua hari sebelum ia diperbolehkan pulang.
Saat masuk rumah sakit, hasil pemeriksaan pencitraan menunjukkan bahwa tumor di sisi kanan lehernya berukuran sekitar 20 x 18 x 10 cm, dengan tambahan pembengkakan kelenjar getah bening di sisi kiri leher berukuran sekitar 5 x 4 x 3 cm. Ia didiagnosis menderita karsinoma sel skuamosa laring dengan metastasis kelenjar getah bening servikal bilateral, yang diklasifikasikan sebagai stadium IVb.
Karena tumor menekan trakea laring dan berisiko mengganggu jalan napasnya, tim multidisiplin (MDT) di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou terlebih dahulu memprioritaskan tindakan trakeostomi untuk mengurangi kesulitan bernapas dan menciptakan kondisi yang lebih aman bagi terapi minimal invasif berikutnya. Para ahli bedah melakukan trakeostomi pada 14 Maret, dilanjutkan dengan terapi intervensi dan krioterapi pada tumor leher bagian kanan masing-masing pada 23 dan 30 Maret.
Membandingkan foto yang diambil saat pasien masuk pada 12 Maret dengan foto saat keluar pada 5 April, dokter yang menangani Prasit mencatat bahwa ukuran tumor telah menyusut sekitar empat perlima dalam periode tersebut.
- Prasit mengatakan bahwa ia dapat melihat penyusutan tumor secara nyata setiap hari setelah menjalani tindakan tersebut.
- Pada hari keempat setelah prosedur, ukuran tumor sudah berkurang sekitar 40 persen.
- Ia mengatakan bahwa saat itulah ia mulai kembali merasakan keyakinan yang sebenarnya — untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia tertawa dengan kebahagiaan yang tulus.
Hampir Satu Dekade Kemudian, Tetap Menjalani Hidup dengan Baik
Sisa rangkaian pengobatan dan pemulihan Prasit berjalan dengan lancar. Hampir sembilan tahun berlalu, kini ia telah memasuki usia tujuh puluhan, dengan rambut hitam yang masih lebat serta terlihat penuh energi dan ceria. Melihat kondisinya saat ini, sulit membayangkan penyakit yang dulu hampir menutup seluruh saluran pernapasannya—sebuah perjuangan yang pada akhirnya berhasil ia lalui berkat kemajuan teknologi medis modern.
Kisah Prasit kemudian menginspirasi banyak pasien lainnya, dan ia terus menjadi contoh tentang seperti apa pemulihan jangka panjang yang dapat dicapai. Pesannya kepada orang lain yang sedang menghadapi diagnosis kanker sangat sederhana: tetap optimistis dan jangan pernah menyerah. Ia menyampaikan kepada sesama pasien bahwa memilih jalur pengobatan yang tepat sangatlah penting, dan ia menganggap St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou sebagai pilihan yang tepat baginya—sebuah nasihat tulus yang ia berikan kepada siapa pun yang sedang menempuh perjalanan serupa, dengan harapan mereka juga dapat mengatasi penyakit tersebut secepat mungkin.
Tentang Teknologi Pengobatan yang Digunakan
Krioterapi (Argon-Helium Knife)
Krioterapi, yang juga dikenal sebagai terapi Argon-Helium Knife, bekerja dengan mengalirkan gas argon secara cepat melalui ujung jarum, yang dapat membekukan jaringan tumor hingga mencapai suhu antara -120°C hingga -180°C dalam waktu sekitar 10 detik. Proses ini membentuk bola es yang menyebabkan nekrosis koagulasi pada jaringan. Selanjutnya, gas helium dialirkan melalui jarum yang sama untuk meningkatkan suhu dengan cepat hingga sekitar 20°C–40°C, sehingga bola es mencair secara cepat dan menyebabkan jaringan tumor pecah serta hancur dalam proses tersebut.
- Merupakan metode pengobatan fisik dengan efek samping yang relatif sedikit.
- Dapat diterapkan pada hampir semua jenis tumor padat.
Terapi Intervensi
Terapi intervensional adalah metode pengobatan yang dilakukan dengan menusukkan jarum ke area target di bawah panduan peralatan pencitraan medis. Dengan menggunakan kawat pemandu dan instrumen berpresisi tinggi, obat antitumor dapat dikirim langsung ke dalam tumor dengan konsentrasi 2 hingga 8 kali lebih tinggi dibandingkan pemberian melalui infus. Pada saat yang sama, pembuluh darah arteri yang memasok darah ke tumor akan disumbat (embolisasi), dengan tujuan mengecilkan atau menghilangkan tumor sepenuhnya.
- Keunggulannya meliputi trauma yang lebih ringan, komplikasi yang lebih sedikit, tingkat keamanan yang lebih tinggi, serta pemulihan yang lebih cepat dibandingkan prosedur yang lebih invasif.
- Terapi ini sering menjadi pilihan bagi pasien yang tidak memberikan respons baik terhadap radioterapi atau kemoterapi konvensional, atau bagi pasien yang tidak bersedia menjalani operasi maupun secara medis tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan bedah.



