Ibu Asal Kanada Berjuang Melawan Kanker Payudara Stadium IV dengan Perawatan Minimal Invasif
Diagnosis yang Mengubah Hidup dan Keputusan Menolak Kemoradioterapi
Michelle Elsien van Veen, seorang ibu berusia 36 tahun asal Winnipeg, Kanada, menjalani kehidupan yang bahagia bersama suami dan keempat anaknya hingga sebuah benjolan di payudara kirinya mengubah segalanya. Pada tahun 2013, Michelle didiagnosis menderita kanker payudara stadium II. Dokter menyarankan radioterapi untuk mengecilkan ukuran tumor sebelum melanjutkan ke tahap pengobatan berikutnya. Namun, Michelle memutuskan untuk tidak menjalani terapi tersebut. Ia mengetahui bahwa kemoradioterapi sering kali menimbulkan efek samping yang berat dan melelahkan. Sebagai seorang ibu dengan empat anak yang masih membutuhkan perhatian dan pengasuhannya, Michelle merasa tidak mampu kehilangan kekuatan dan energi akibat efek samping pengobatan tersebut. Sebagai alternatif, Michelle memilih menjalani operasi mastektomi (pengangkatan payudara).

Setelah menjalani operasi, Michelle memilih menjalani pendekatan penyembuhan alami di sebuah klinik dekat rumahnya. Program terapinya meliputi suntikan vitamin dan pola makan anti-kanker yang ketat dengan tujuan mengendalikan perkembangan penyakit. Untuk beberapa waktu, pendekatan tersebut tampak memberikan hasil yang baik. Namun, pada tahun 2016, kanker kembali muncul di kelenjar getah bening di bawah lengan kirinya. Michelle kemudian menjalani operasi untuk mengangkat kelenjar getah bening yang terdampak, tetapi sekali lagi memutuskan untuk tidak menjalani kemoterapi maupun radioterapi.
Tanda-Tanda Peringatan Kembali Muncul, Penyakit Semakin Berkembang
Pada pertengahan tahun 2017, Michelle mulai merasakan sensasi terbakar yang mengganggu disertai nyeri tajam seperti ditusuk pada jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya. Keluhan tersebut kemudian menyebar, menyebabkan mati rasa serta sensasi abnormal pada bagian dalam lengan bawah hingga telapak tangan. Seiring waktu, gejalanya semakin memburuk hingga Michelle harus terbaring di tempat tidur dan tidak lagi mampu menjalani aktivitas sehari-hari, bahkan untuk melakukan tugas-tugas dasar sekalipun.
Pada bulan November tahun itu, hasil pemeriksaan menunjukkan munculnya pertumbuhan tumor baru di bawah tulang selangka kiri, ketiak kiri, dan sepanjang dinding depan dada. Penyakit tersebut juga telah menekan jaringan saraf dan pembuluh darah di lengan kiri pasien. Dokter kemudian menegakkan diagnosis kanker payudara stadium IV. Pasien diberi tahu bahwa pilihan pengobatan konvensional yang tersedia sudah sangat terbatas, dengan perkiraan harapan hidup hanya satu hingga dua tahun. Pada saat itu, perawatan paliatif disampaikan sebagai pilihan utama untuk membantu mengendalikan gejala dan menjaga kualitas hidup.
Bertekad untuk tidak menyerah, Michelle mengetahui tentang St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou melalui rekomendasi seorang temannya. Kisah-kisah pasien lain yang berhasil melampaui prediksi dan memperoleh hasil pengobatan yang baik di rumah sakit tersebut membangkitkan kembali harapannya. Dengan tekad baru, ia memutuskan untuk pergi ke Tiongkok untuk menjalani pengobatan.

Mengombinasikan Terapi Intervensi dengan Implantasi Partikel Radioaktif
Michelle tiba di rumah sakit pada Januari 2018 dalam kondisi yang sangat lemah dan mengalami nyeri hebat, bahkan kesulitan bangun dari tempat tidur tanpa bantuan. Setelah mengevaluasi kondisinya melalui diskusi Multidisciplinary Team (MDT), tim medis yang dipimpin oleh Dr. Pan Xin menyusun rencana pengobatan yang mengombinasikan terapi intervensi dengan implantasi partikel radioaktif (biji 125I).

Dr. Pan menjelaskan bahwa rencana pengobatan ditujukan untuk menangani ketiga lokasi tumor yang dimiliki Michelle. Pada dua tumor, dilakukan implantasi partikel radioaktif (biji 125I) untuk menghancurkan sel kanker secara langsung sekaligus membantu mengurangi risiko penyebaran lebih lanjut. Sementara itu, terapi intervensi dipilih untuk tumor yang berada di bawah tulang selangka dengan cara menghantarkan obat langsung ke dalam tumor, sehingga efek samping yang umumnya terjadi pada pengobatan sistemik dapat diminimalkan.
Elemen utama dalam rencana pengobatan Michelle meliputi:
- Terapi intervensi yang menargetkan tumor di dekat tulang selangka kiri, dengan menghantarkan obat secara langsung ke lokasi tumor.
- Implantasi partikel radioaktif (biji 125I) untuk menghancurkan sel kanker pada dua lokasi tumor lainnya sekaligus membantu mencegah penyebaran (metastasis).
- Total menjalani tiga sesi terapi intervensi dan dua prosedur implantasi partikel radioaktif (biji 125I).
Michelle mulai merasakan peredaan nyeri tidak lama setelah sesi pengobatan pertamanya. Membandingkan pengalamannya dengan perawatan yang dijalaninya di Kanada, ia mengatakan bahwa kemoterapi di sana memengaruhi seluruh tubuhnya dan menimbulkan efek samping yang bersifat toksik. Sebaliknya, pendekatan terapi minimal invasif di Guangzhou menargetkan tumor secara langsung, sehingga efek sampingnya lebih sedikit dan aktivitas sehari-harinya tidak banyak terganggu.
Ayahnya, yang setia mendampingi selama seluruh proses pengobatan, mengakui bahwa memilih rumah sakit yang belum dikenal di negara dengan bahasa yang tidak mereka kuasai terasa seperti sebuah pertaruhan hidup dan mati. Keraguan yang sempat menghantui di awal perjalanan perlahan berubah menjadi rasa lega dan syukur ketika mereka melihat pengobatan memberikan hasil yang nyata.
Tumor Mengecil dan Kondisi Michelle Membaik
Setelah menjalani tiga kali terapi intervensi dan dua kali implantasi partikel radioaktif (biji 125I), hasil CT scan lanjutan menunjukkan bahwa ukuran tumor Michelle menyusut secara signifikan. Seiring dengan itu, kondisi fisiknya juga terus membaik secara bertahap.
Pesan Harapan untuk Pasien Lain
Sebelum kembali ke tanah air, Michelle menyampaikan pesan penyemangat bagi para pasien yang sedang berjuang melawan kanker. Menurutnya, rumah sakit ini layak dipertimbangkan bagi siapa saja yang mencari pilihan pengobatan dengan efek samping yang lebih minimal sehingga kualitas hidup tetap dapat terjaga. Selama lebih dari satu bulan mendampingi sang ayah menjalani perawatan, Michelle bertemu dengan banyak pasien kanker paru-paru, kanker payudara, dan kanker kolorektal yang menunjukkan perkembangan positif setelah menjalani terapi minimal invasif. Pengalaman menyaksikan langsung perubahan tersebut membuat Michelle dan ayahnya yakin bahwa rumah sakit ini dapat memberikan harapan baru serta semangat bagi para pasien dalam menghadapi dan melawan kanker.



