Kakek 81 Tahun Berhasil Mengatasi Tumor Paru yang Membandel
Menjelang waktu visite pagi, Pak Sun sudah bangun dan berjalan santai menyusuri koridor St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. Melihat langkahnya yang ringan dan stabil, hampir tidak ada yang menyangka bahwa pria berusia 81 tahun ini baru saja menjalani prosedur Combined Knife, terapi minimal invasif untuk kanker paru, sehari sebelumnya.

Diagnosis yang Tak Terduga di Usia Senja
Bapak Sun, seorang pria berusia 81 tahun yang berasal dari Kanton dan tinggal di Distrik Haizhu, Guangzhou, menjalani masa pensiunnya dengan tenang di rumah, ditemani anak dan cucu-cucunya. Kehidupan yang damai itu berubah pada November 2021 ketika pemeriksaan kesehatan rutin di sebuah rumah sakit setempat mengungkap bahwa ia menderita kanker paru-paru sel kecil (small-cell lung cancer) di paru-paru kanannya. Diagnosis tersebut mengejutkan seluruh keluarganya. Begitu mengetahui kabar itu, putra dan putrinya segera pulang untuk mencari rumah sakit serta metode pengobatan yang paling tepat bagi sang ayah.
Memilih Pendekatan yang Lebih Ringan: Kemoterapi Dibanding Operasi
Mengingat usianya yang sudah lanjut, anak-anak Tn. Sun ragu untuk mengambil tindakan operasi yang bersifat invasif. Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, mereka memutuskan agar beliau menjalani kemoterapi. Tidak ingin menjadi beban bagi keluarganya, Tn. Sun menerima keputusan tersebut dengan tabah. Ia menjalani lima siklus kemoterapi dengan penuh keteguhan dan tetap berusaha menjaga semangat, meskipun harus menghadapi berbagai ketidaknyamanan selama proses pengobatan.

Meskipun kemoterapi berhasil mengecilkan tumor di dinding rongga dada kanan, pengobatan tersebut tidak mampu menghilangkannya sepenuhnya. Masih terdapat massa tumor berukuran sekitar 4 × 1,8 cm. Dokter yang merawat kemudian menyarankan radioterapi sebagai terapi lanjutan untuk mengatasi sisa tumor tersebut, namun Bapak Sun beserta keluarganya memutuskan untuk menolak pilihan tersebut. Setelah memperoleh rekomendasi mengenai St. Stamford Modern Cancer Hospital dari seseorang yang pernah mengenalnya, mereka mempertimbangkan berbagai pilihan pengobatan dengan saksama. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menjalani terapi minimal invasif sebagai alternatif penanganan.
Prosedur Minim Invasif yang Direncanakan dengan Cermat
Kasus Mr. Sun memiliki beberapa tantangan tersendiri: usianya telah lebih dari 80 tahun, memiliki riwayat hipertensi, dan masih terdapat massa tumor berukuran 4 cm × 1,8 cm meskipun telah menyelesaikan kemoterapi. Setelah melalui evaluasi menyeluruh, tim multidisiplin yang dipimpin oleh Prof. Dai Wenyan, Direktur Departemen Onkologi rumah sakit, menyimpulkan bahwa terapi Combined Knife merupakan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi pasien.
Pada tanggal 30 Maret, Prof. Dai melakukan prosedur ablasi Combined Knife. Dengan panduan pencitraan CT secara real-time, jarum/probe ablasi diarahkan secara tepat menuju lokasi tumor. Melalui dua siklus terapi yang bergantian antara suhu ekstrem rendah hingga -196°C dan suhu tinggi hingga 80°C, tumor yang berada di dinding dada berhasil dihancurkan.

Mengelola Risiko pada Kasus Lansia dengan Risiko Tinggi
Prof. Dai mengakui kompleksitas kasus tersebut: “Prosedur ini memiliki risiko yang cukup tinggi mengingat usia pasien, serta kondisi tumor yang telah menyebar hingga ke pleura sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap kemungkinan komplikasi seperti nyeri atau kebocoran udara ke dalam rongga dada.”
Beliau menjelaskan bahwa perencanaan praoperasi yang matang memungkinkan tim medis menjalankan prosedur dengan lancar. Selama operasi, Tn. Sun tidak merasakan nyeri, kehilangan darah sangat minimal yaitu sekitar 10 ml, dan tidak terjadi aerotoraks (masuknya udara ke dalam rongga dada) baik selama maupun setelah tindakan.

Pemulihan Cepat dan Nyaman
Setelah menjalani prosedur, Tn. Sun merasakan pernapasannya membaik secara langsung. “Semuanya berjalan lancar hari itu,” ungkapnya sambil tersenyum saat kunjungan dokter di ruang perawatan. “Saya hampir tidak batuk lagi, nafsu makan dan tidur saya sudah kembali normal. Saat ada waktu luang, saya suka berjalan sebentar menyusuri koridor. Sepertinya dua hari lagi saya sudah bisa pulang!”
Memperluas Pilihan Pengobatan bagi Pasien Kanker Lanjut Usia
Banyak pasien kanker tidak dapat menjalani operasi konvensional atau kombinasi kemoterapi dan radioterapi karena kondisi fisik yang kurang mendukung. Bagi pasien seperti ini, pengobatan minimal invasif memberikan peluang baru dan menghadirkan kembali harapan. Kasus Mr. Sun menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan ini dapat memberikan manfaat bagi pasien kanker usia lanjut.
Combined Knife merupakan teknologi krioterapi generasi terbaru yang dapat digunakan untuk menangani lebih dari 80% jenis tumor padat. Fleksibilitasnya memungkinkan teknologi ini digunakan sebagai terapi tunggal maupun dikombinasikan dengan operasi, kemoterapi, atau radioterapi. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa terapi Combined Knife dapat merangsang pembentukan antigen baru di dalam tubuh, yang berpotensi meningkatkan respons terhadap imunoterapi. Hal ini membuka peluang pengembangan kombinasi antara Combined Knife dan terapi berbasis imun untuk memberikan manfaat terapeutik yang lebih luas di masa mendatang.



