Bagaimana Terapi Intervensi Mengecilkan Tumor Paru-Paru Saya hingga 90%
Diagnosis Mendadak yang Mengubah Segalanya
Nama saya Tjioe Sin Jen. Saya berusia 47 tahun, dan sebelum semua ini terjadi, saya menghabiskan hari-hari saya mengajar ilmu komputer, fisika, dan kimia kepada siswa SMP dan SMA di Jakarta, Indonesia. Mengajar bukan sekadar pekerjaan bagi saya — itu adalah sesuatu yang saya cintai. Namun, pada awal tahun 2016, hidup saya berubah secara tak terduga, dan saya harus meninggalkan ruang kelas untuk menjalani pengobatan.
Semuanya berawal dari rasa nyeri yang terus-menerus di dada kanan saya serta sensasi sesak dan penuh di dada yang tidak kunjung hilang. Ketika akhirnya saya memeriksakan kondisi tersebut secara lokal pada Februari 2016, hasil pemindaian menunjukkan adanya massa. Untuk memastikan diagnosis, saya menjalani biopsi pada bulan berikutnya. Hasilnya membuat saya terpukul: kanker paru-paru stadium empat, dengan sel kanker yang telah menyebar ke luar paru-paru. Saya masih ingat betapa terkejutnya saya saat mendengar kabar tersebut. Saya tidak merokok, tidak minum alkohol, dan rutin berlari — bahkan saya sudah mendaftar untuk mengikuti maraton di Mongolia pada Juli tahun itu. Kanker adalah hal terakhir yang pernah saya bayangkan akan saya dengar.

Mencari Pilihan Pengobatan yang Lebih Baik
Menghadapi diagnosis seperti ini tentu membawa rasa takut dan rasa sakit secara fisik. Namun, jauh di dalam diri saya, masih ada keinginan kuat untuk terus bertahan hidup. Keluarga saya selalu mendukung saya, dan atas saran dokter setempat, saya mulai mengonsumsi obat kanker oral. Meski demikian, saya menyadari bahwa obat saja tidak akan memberikan solusi jangka panjang, sehingga saya mulai mencari rumah sakit yang mungkin dapat menawarkan pilihan pengobatan yang lebih baik.
Pencarian tersebut membawa saya ke Modern Cancer Hospital Guangzhou (MCHG). Melalui situs web mereka, saya mengetahui bahwa rumah sakit ini menawarkan 18 jenis teknik pengobatan minimal invasif dan telah memperoleh akreditasi JCI. Saya juga menemukan kisah pasien lain, Elang Mochamad, yang kondisinya sangat mirip dengan saya — dan kisah tersebut memberikan harapan nyata bagi saya. Saya kemudian menghubungi kantor cabang MCHG di Jakarta, dan tim mereka membantu mengurus visa serta pengaturan perjalanan saya. Pada tanggal 22 April, saya tiba di Guangzhou untuk memulai pengobatan.
Menjalani Terapi Intervensi
Setelah dirawat di rumah sakit, pemeriksaan lengkap memastikan bahwa saya berada pada stadium IV, dengan ukuran tumor sekitar 2,4 × 7,5 cm. Setelah tim multidisiplin meninjau kondisi saya, mereka merekomendasikan terapi intervensi sebagai metode pengobatan yang sesuai.

Sesi pertama saya dilakukan pada 25 April. Karena sebelumnya dokter telah menjelaskan secara rinci mengenai apa yang akan saya alami, saya menjalani prosedur tersebut dengan rasa cemas yang jauh lebih ringan dari perkiraan. Prosedurnya hanya berlangsung sekitar 20 menit, dan setelahnya satu-satunya efek samping yang saya alami hanyalah ulkus ringan — tidak ada efek serius lainnya. Pada 19 Mei, saya menjalani terapi kedua yang hanya berlangsung sekitar 10 menit. Perlahan, nyeri dada yang telah mengganggu saya selama berbulan-bulan mulai berkurang. Hal yang paling mengesankan bagi saya adalah efek sampingnya yang sangat ringan setiap kali menjalani terapi — saya sudah dapat berjalan sendiri tidak lama setelah setiap sesi. Bahkan, dokter yang menangani saya, Dr. Wang Zenghai, mengizinkan saya pulang pada sore hari yang sama setelah prosedur kedua.
Beberapa poin utama dari pengalaman pengobatan saya meliputi:
- Setiap sesi terapi intervensi hanya berlangsung sekitar 10–20 menit
- Pemulihan berlangsung cepat sehingga saya dapat beraktivitas dan berjalan secara mandiri segera setelah pengobatan
- Efek samping sangat minimal — saya hanya mengalami ulkus ringan setelah sesi pertama.
Melihat Hasilnya
Pada tanggal 5 Juni, saya kembali untuk konsultasi lanjutan dan menjalani pemeriksaan pemindaian terbaru. Kabar yang saya terima jauh lebih baik dari yang saya harapkan: tidak lagi terlihat massa tumor di paru-paru kanan saya, dan secara keseluruhan ukuran tumor telah mengecil hingga 90 persen. Itu adalah momen penuh kelegaan bagi saya dan seluruh keluarga saya. Pada tanggal 8 Juni, saya menjalani sesi terapi intervensi yang ketiga, yang direkomendasikan oleh dokter sebagai upaya untuk memperkuat hasil pengobatan dan menurunkan kemungkinan kanker kembali kambuh.
Hidup Setelah Menjalani Pengobatan
Pengalaman ini telah mengubah cara saya memandang kesehatan. Jika ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada orang lain dari kisah saya, itu adalah: jangan melewatkan pemeriksaan kesehatan rutin. Anda bisa saja merasa sepenuhnya baik-baik saja, tetapi tetap memiliki masalah serius yang tersembunyi di dalam tubuh. Menemukan masalah sejak dini dan segera mengambil tindakan dapat membuat perbedaan besar. Apa pun yang sedang Anda hadapi, tetaplah berpegang pada keyakinan bahwa Anda mampu melewatinya — saya benar-benar percaya bahwa Modern Cancer Hospital Guangzhou dapat memberikan hasil seperti yang saya rasakan kepada orang lain.
Waktu saya di Guangzhou bukan hanya tentang kunjungan ke rumah sakit. Saya mengikuti sebuah acara bernama “Anticancer Warrior”, mengunjungi beberapa tempat wisata terkenal di kota tersebut, dan bahkan ikut serta dalam perayaan Festival Perahu Naga pada tanggal 7 Juni. Momen-momen tersebut membantu saya keluar dari rutinitas kehidupan di rumah sakit dan mengingatkan saya bahwa masih banyak hal yang dapat dinikmati. Dibandingkan dengan rumah sakit di Malaysia dan Indonesia yang cenderung lebih berfokus pada kemoterapi dan radioterapi standar, saya merasa pendekatan minimal invasif di MCHG jauh lebih mudah untuk dijalani — ditambah lagi dengan keramahan para dokter dan perawat di sana yang benar-benar menyentuh hati saya.
Sebelum berangkat ke Guangzhou pada tanggal 22 April, saya harus memberi tahu para siswa bahwa saya akan meninggalkan mereka sementara waktu untuk menjalani pengobatan. Kini, dengan hasil yang begitu menggembirakan, saya berharap dapat segera kembali mengajar di kelas serta berkumpul kembali bersama para siswa dan keluarga saya.



