Ibu asal Indonesia SAIDAH Mengalahkan Kanker Payudara dan Kekambuhan Kelenjar Getah Bening
“Setelah bertahun-tahun melawan kanker payudara dan kekambuhan di kelenjar getah bening, pengobatan minimal invasif yang tepat membantu saya mendapatkan kembali kekuatan lengan dan harapan. Jangan pernah menyerah pada diri sendiri.” — SAIDAH, Indonesia
SAIDAH adalah seorang ibu berusia 55 tahun asal Indonesia yang telah hampir satu dekade menghadapi kanker payudara. Jauh sebelum dikenal sebagai pasien dengan keberanian luar biasa, ia adalah seorang calon ibu yang harus membuat pilihan sulit antara menjalani pengobatan untuk dirinya sendiri atau menjaga keselamatan bayi kembar yang sedang dikandungnya. Pilihan tersebut, serta perjalanan pengobatan yang ia jalani selama bertahun-tahun di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou, akhirnya membawanya menuju pemulihan. Select 28 more words to run Humanizer.

Pilihan yang Mustahil: Kesehatannya Sendiri atau Bayi Kembarnya yang Belum Lahir
Pada tahun 2016, SAIDAH menyadari adanya benjolan yang tumbuh di payudara kirinya dan segera menjalani pemeriksaan medis. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tumor ganas — kabar yang sangat mengejutkan karena datang bersamaan dengan kehamilannya yang mengandung bayi kembar. Tiba-tiba ia harus mempertimbangkan dua hal yang paling berharga baginya: kesehatannya sendiri dan perkembangan bayinya yang aman.
Khawatir pengobatan kanker dapat membahayakan pertumbuhan kedua bayinya, SAIDAH dan suaminya mengambil keputusan sulit untuk menunda tindakan medis apa pun. Tidak lama kemudian, ia berhasil melahirkan kedua anaknya dengan selamat.
Pada tahun 2018, benjolan di payudara kirinya semakin membesar, dan kulit di atasnya mulai rusak hingga menimbulkan rasa sakit. Pemeriksaan lanjutan di rumah sakit setempat mengonfirmasi bahwa ia menderita kanker payudara. Kabar tersebut hampir membuatnya kehilangan harapan — memikirkan kedua anak kembarnya, suami, dan seluruh keluarganya membuatnya menangis selama berhari-hari. Namun, justru keluarganya yang menjadi sumber kekuatannya, mendorongnya untuk bangkit kembali dan menghadapi penyakit tersebut dengan berani.
SAIDAH mencari pengobatan di rumah sakit di Jakarta dan Malaysia, di mana dokter menyarankan tindakan mastektomi. Merasa ragu untuk menjalani operasi besar tersebut, ia dan suaminya mulai mencari pilihan pengobatan alternatif melalui internet. Pencarian itu akhirnya membawa mereka pada pendekatan terapi minimal invasif yang ditawarkan oleh St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. Setelah menjalani konsultasi jarak jauh — dengan dukungan seorang penerjemah selama proses berlangsung — tim medis rumah sakit menjelaskan kondisi penyakitnya serta prinsip di balik terapi minimal invasif. Setelah itu, pasangan tersebut memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk menjalani pengobatan.
Kemenangan Pertama Melalui Perawatan Presisi Minim Invasif
SAIDAH tiba di rumah sakit bersama suaminya pada September 2018. Pemeriksaan mendetail menunjukkan bahwa tumor di payudara kirinya berukuran sekitar 12 × 7,5 cm, dan ia didiagnosis menderita kanker payudara stadium IIIc (ypT4N2M0) — kondisi yang membutuhkan penanganan segera.
Tim multidisiplin (MDT) yang terdiri dari para dokter spesialis menyusun strategi pengobatan kombinasi: infus obat melalui terapi intervensi bersama dengan cryotherapy untuk menargetkan dan menghancurkan jaringan tumor secara langsung, yang kemudian dilanjutkan dengan mastektomi radikal modifikasi pada payudara kiri disertai diseksi kelenjar getah bening aksila serta radioterapi untuk membersihkan kanker secara menyeluruh.
- Terapi intervensi: obat antikanker diberikan langsung melalui pembuluh arteri yang memasok darah ke tumor, sehingga obat dapat bekerja secara lebih tepat pada jaringan kanker.
- Cryotherapy (ablasi argon-helium knife): jaringan tumor dibekukan dengan cepat hingga menjadi es, menyebabkan membran sel kanker pecah dan menghancurkan tumor dari dalam.
Menurut dokter yang menangani, Dr. Zhao, kombinasi terapi intervensi, cryotherapy, dan radioterapi secara bertahap mengecilkan tumor SAIDAH sekaligus mengurangi rasa nyeri pada payudaranya. Pada pemeriksaan ulang tahun 2019, massa berukuran 12 × 7,5 cm tersebut telah menghilang sepenuhnya — menjadi kemenangan besar pertama SAIDAH dalam perjuangannya melawan kanker.

Kembali Setelah Pandemi untuk Menghadapi Kemunduran Baru
Seandainya jadwal pemeriksaan lanjutan rutin tetap berjalan sesuai rencana, kanker SAIDAH kemungkinan besar dapat terus dikendalikan. Namun, pandemi COVID-19 membuatnya tidak dapat melakukan perjalanan kembali ke rumah sakit, sehingga ia harus menjalani pengobatan lokal di Indonesia. Karena kondisi jantungnya tidak memungkinkan untuk menerima dosis obat yang tinggi, dokter setempat memiliki keterbatasan dalam memberikan pengobatan yang lebih agresif, dan kondisinya tidak membaik seperti yang diharapkan.
Selama periode ini, SAIDAH mulai mengalami nyeri yang hilang timbul pada lengan kirinya, yang kemudian berkembang hingga kehilangan kemampuan untuk bergerak sepenuhnya. Segera setelah pembatasan perjalanan di Tiongkok dilonggarkan, ia menghubungi kantor rumah sakit di Jakarta untuk mengatur kunjungan tindak lanjut secepat mungkin.
Ia dan suaminya kembali ke rumah sakit pada Juni 2023. Pemeriksaan PET-CT ulang menemukan adanya tumor metastasis baru pada kelompok otot di area ketiak kiri, yang mengarah pada diagnosis penyakit ganas sekunder pada kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening yang terdampak menekan saraf pada lengan kirinya, menyebabkan kelumpuhan dengan tingkat kekuatan otot 0 (pada skala 0–5, di mana angka yang lebih tinggi menunjukkan kekuatan yang lebih besar). Satu kabar yang menggembirakan adalah jaringan payudaranya sendiri tetap bersih berdasarkan hasil pemeriksaan.
Setelah evaluasi menyeluruh, tim MDT (Multidisciplinary Team) menyusun rencana pengobatan baru yang mengombinasikan terapi intervensi dengan implantasi partikel untuk menangani metastasis pada kelenjar getah bening tersebut.
Mendapatkan Kembali Kekuatan dan Harapan Baru
Selama menjalani pengobatan tahap kedua ini, rasa sakit pada lengan SAIDAH berkurang secara signifikan dan rentang gerak lengannya membaik dengan jelas — ia kembali mampu mengangkat lengannya ke arah samping. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa tumor ganas pada kelenjar getah bening berhasil dikendalikan dengan baik, sementara kekuatan lengan kirinya meningkat dari tingkat 0 menjadi tingkat 3. Melihat perkembangan ini, SAIDAH dan suaminya merasa lebih yakin bahwa mereka telah memilih rumah sakit yang tepat untuk perawatannya. Select 27 more words to run Humanizer.

Rasa Syukur untuk Tim Medis dan Pesan bagi Sesama Pasien
“Melihat tubuh saya perlahan pulih dan membaik membuat saya semakin percaya diri untuk terus berjuang,” ungkap SAIDAH saat mengenang perjalanan pengobatannya. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para dokter dan perawat yang merawatnya dengan penuh kesabaran dan kehangatan, membuatnya merasa seperti bagian dari keluarga — terutama Dr. Zhao dan penerjemah yang mendampinginya selama proses pengobatan. Ia juga menyampaikan bahwa lingkungan rumah sakit yang nyaman membantunya fokus pada pemulihan tanpa menambah kekhawatiran.

Kepada pasien lain yang sedang menempuh perjalanan serupa, SAIDAH menyampaikan pesan ini: “Dalam perjalanan melawan kanker, hal yang paling penting adalah tidak menyerah pada diri sendiri, percaya kepada dokter, dan memiliki keyakinan terhadap diri sendiri.”



