Mengatasi Ketakutan terhadap Kemoterapi Melalui Perawatan Minimal Invasif
Diagnosis yang Menakutkan
Pada tahun 2013, SURIANI TJUA menerima kabar yang tidak ingin didengar oleh siapa pun: ia didiagnosis menderita kanker serviks saat berada di Malaysia. Ia mengingat kembali bahwa dirinya diliputi rasa takut yang luar biasa saat itu, merasa seolah-olah hidupnya akan segera berakhir dan tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Dukungan dari keluarga dan teman-temannya secara perlahan membantunya bangkit dari keputusasaan, dengan mengingatkannya bahwa diagnosis kanker serviks stadium II yang dialaminya masih memberikan banyak harapan untuk sembuh.

Putaran Pertama Pengobatan yang Penuh Tantangan
Dengan dukungan dari orang-orang terdekatnya, SURIANI TJUA memulai pengobatan di rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggalnya. Ia menjalani rangkaian 12 kali kemoterapi, tetapi pengalaman tersebut memberikan dampak fisik yang berat, menyebabkan diare, mual dan muntah, kehilangan nafsu makan, serta kerontokan rambut. Karena tidak lagi mampu menahan efek samping tersebut, ia kemudian beralih ke radioterapi dan menyelesaikan 28 sesi pengobatan, yang berhasil mengendalikan tumornya untuk sementara waktu.
Perkembangan positif tersebut tidak berlangsung lama. Dokter kemudian menemukan bahwa kelenjar getah beningnya mengalami pembengkakan, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa kanker telah menyebar lebih jauh, kemungkinan juga mencapai hati dan paru-paru. Masih teringat dengan pengalaman buruk akibat kemoterapi sebelumnya, SURIANI TJUA tidak sanggup melanjutkan pendekatan tersebut dan mulai mencari pilihan pengobatan lain.
Discovering an Alternative in Guangzhou
Sebuah penemuan yang tidak disengaja mengubah segalanya: seorang teman menemukan informasi tentang Modern Cancer Hospital Guangzhou secara online dan menyarankannya untuk mengunjungi kantor perwakilan rumah sakit tersebut di Jakarta guna mendapatkan konsultasi gratis. Di sana, ia mengetahui tentang pilihan pengobatan minimal invasif yang ditawarkan rumah sakit, yaitu pendekatan yang dirancang untuk memberikan efek samping lebih sedikit dan pemulihan lebih cepat dibandingkan kemoterapi konvensional. Informasi tersebut memberinya harapan baru, dan ia segera memutuskan untuk menjalani pengobatan kanker serviksnya di Tiongkok.

Tiba di Modern Cancer Hospital Guangzhou
SURIANI TJUA tiba di Modern Cancer Hospital Guangzhou pada 29 April 2015. Setelah menjalani pemeriksaan medis menyeluruh, tim multidisiplin rumah sakit (MDT) menyusun rencana pengobatan kombinasi yang berfokus pada terapi intervensi, cryotherapy, dan kemoterapi.
Pada awalnya, ia menolak gagasan untuk menjalani kemoterapi lagi karena masih mengingat betapa beratnya dampak pengobatan tersebut terhadap kondisinya sebelumnya. Dokter yang menangani kemudian meluangkan waktu untuk menjelaskan alasan di balik rencana pengobatan tersebut, bahwa kemoterapi kali ini hanya berperan sebagai terapi pendukung, sementara terapi intervensi dan cryotherapy menjadi bagian utama dari perawatannya. Dibandingkan dengan kemoterapi standar atau operasi, dokter menjelaskan bahwa teknik minimal invasif ini menyebabkan trauma yang lebih ringan pada tubuh, memiliki efek samping yang lebih sedikit, dan cenderung memberikan hasil yang lebih baik.
Sebuah Titik Balik
Setelah mendapat penjelasan dan dorongan dari dokternya, SURIANI TJUA merasa yakin untuk melanjutkan rencana pengobatan tersebut. Ia kemudian mengatakan bahwa meskipun pengobatan ini tidak sepenuhnya bebas dari efek samping, efek yang dialaminya tergolong ringan dibandingkan dengan pengalaman kemoterapi yang pernah ia jalani sebelumnya. Ia merasa terkejut sekaligus senang ketika melihat tumornya mulai mengecil setelah putaran pertama pengobatan.
Sejak saat itu, perawatannya dilanjutkan dengan kombinasi:
- Terapi intervensi
- Krioterapi
- Kemoterapi (sebagai terapi pendukung)
Kondisinya terus membaik secara bertahap, dan sel kanker metastasis sebagian besar telah berhasil dieliminasi. Saat membandingkan pengalamannya menjalani perawatan di Modern Cancer Hospital Guangzhou dengan pengobatan di Indonesia, SURIANI TJUA menyoroti rasa yakin karena ditangani oleh tim multidisiplin yang lengkap, serta adanya lebih banyak pilihan pengobatan selain kemoterapi konvensional, termasuk pilihan terapi minimal invasif yang memberikan jauh lebih sedikit penderitaan.
Pesan Harapan bagi Sesama Pasien
Melihat kembali perjalanan panjang yang telah dilaluinya sejak diagnosis, SURIANI TJUA menggambarkan perubahan besar dalam dirinya, dari rasa terkejut dan kehilangan harapan yang ia rasakan pada awalnya menjadi optimisme yang ia miliki saat ini. Dalam wawancaranya, ia menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada keluarga, teman-teman, dan tim medis yang telah mendampinginya sepanjang perjalanan tersebut. Ia juga menyampaikan pesan bagi orang lain yang sedang menghadapi kanker: jangan biarkan rasa takut membuat Anda merasa sendirian. Tetaplah memiliki harapan, tetap percaya diri, terus berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar Anda, dan pertahankan pikiran yang positif. Select 6 more words to run Humanizer.



