Kanker Paru Stadium IV dengan Penyebaran ke Otak: Memilih Penanganan Minimal Invasif
Pertarungan Kedua Setelah Berhasil Mengalahkan Kanker
Ibu Toh, seorang wanita berusia 55 tahun asal Johor Bahru, Malaysia, pernah menghadapi kanker sebelumnya. Lima tahun sebelum didiagnosis menderita kanker paru, ia menjalani pengobatan limfoma di sebuah rumah sakit di Malaysia dengan enam siklus kemoterapi. Pengobatan tersebut memberikan dampak yang cukup berat. Selama menjalani kemoterapi, ia terus mengalami mual, muntah, dan kerontokan rambut. Meski demikian, ia berhasil melewati masa-masa sulit tersebut dan mencapai angka kelangsungan hidup lima tahun, yang sering dianggap oleh para dokter sebagai tonggak penting dalam keberhasilan penanganan kanker.
Namun, perjuangannya belum berakhir. Saat kanker kembali, kali ini di paru-paru, Ibu Toh tidak menyerah pada rasa takut. "Saya sudah melewati masa kelangsungan hidup lima tahun. Saya sadar kanker bisa saja kambuh, tetapi jika itu terjadi lagi, kita akan mengobatinya," tuturnya dengan penuh keyakinan. Semangat pantang menyerah itulah yang kembali menguatkannya, sama seperti ketika ia pertama kali menghadapi diagnosis kanker.

Diagnosis yang Berat Terungkap
Pada September 2017, Ibu Toh mulai mengalami sesak napas sehingga memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penumpukan cairan di paru-paru serta beberapa tumor yang menyebar di paru-paru kirinya, dengan ukuran terbesar sekitar 2 cm. Berdasarkan temuan tersebut, ia didiagnosis menderita kanker paru stadium IV.
Dokter di Malaysia berupaya mengatasi efusi pleura dan meresepkan obat untuk mengendalikan kondisinya. Namun, setelah mengonsumsi obat tersebut selama lebih dari satu bulan, Ibu Toh mulai mengalami efek samping yang mengganggu, seperti jari-jari tangan pecah-pecah hingga berdarah, bibir kering dan pecah-pecah, serta hidung yang terus-menerus terasa kering. Memburuknya efek samping tersebut mendorong beliau dan keluarganya untuk mencari alternatif pengobatan lainnya.

Menemukan Harapan Melalui Seminar Kanker
Titik balik terjadi pada Oktober 2017, ketika putra Ibu Toh menemukan informasi mengenai sebuah seminar kanker yang akan diselenggarakan di Johor Bahru melalui pencarian di internet dan pengumuman di surat kabar setempat. Keluarga kemudian memutuskan untuk menghadiri acara tersebut bersama-sama. Dalam seminar itu, Ibu Toh berkesempatan bertemu dengan Prof. Xu Haitao, dokter konsultan dari kantor St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou di Kuala Lumpur.
Saat berkonsultasi, Ibu Toh mengetahui tentang pendekatan pengobatan kanker minimal invasif—serangkaian teknik yang dirancang untuk meminimalkan trauma pada tubuh, memberikan hasil terapi yang efektif, serta menimbulkan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan metode pengobatan konvensional. Penjelasan tersebut membangkitkan kembali harapannya. Ia pun semakin yakin bahwa pendekatan ini dapat menjadi pilihan yang tepat untuk mengendalikan penyakitnya secara efektif.
Perjalanan ke Guangzhou untuk Menjalani Pengobatan
Dengan bantuan tim kantor perwakilan rumah sakit di Kuala Lumpur, proses pengurusan visa Ibu Toh berhasil diselesaikan sehingga ia dapat segera berangkat untuk menjalani pengobatan di luar negeri. Pada 9 November 2017, ia bersama putranya tiba di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.
Setelah dirawat, Ibu Toh menjalani pemeriksaan fisik menyeluruh serta CT scan otak untuk memastikan apakah kanker telah menyebar ke otak. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa penyakitnya telah berkembang. Kanker yang semula berada di paru-paru kiri telah menyebar ke hilus paru, kedua lobus paru, dan pleura kiri. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena tumor terbesar di paru-paru membesar dari sekitar 2 cm menjadi 4 cm, sementara sebuah tumor baru berukuran sekitar 2 cm juga ditemukan di otak.
Menghadapi perkembangan tersebut, Tim Multidisiplin (Multidisciplinary Team/MDT) rumah sakit segera menyusun rencana pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi Ibu Toh, yaitu kombinasi tiga siklus terapi intervensi dan kemoterapi, dengan tujuan mengendalikan perkembangan kanker sekaligus memberikan hasil pengobatan yang optimal.

Mengapa Terapi Intervensi Dipilih
Menurut Dr. Ma Xiaoying, dokter yang menangani Ms. Toh, keputusan untuk menggunakan terapi intervensi diambil untuk mengurangi efek samping berat yang umumnya muncul pada kemoterapi konvensional.
Dr. Ma menjelaskan mekanisme kerja terapi tersebut sebagai berikut:
- Obat antikanker diberikan langsung ke lokasi tumor melalui pembuluh darah arteri, bukan diedarkan ke seluruh tubuh.
- Pendekatan ini memungkinkan konsentrasi obat yang lebih tinggi tepat di area tumor, sehingga pengobatan menjadi lebih terarah.
- Sel kanker dapat dihancurkan secara lebih efektif, sementara jaringan dan organ sehat sebagian besar tetap terlindungi dari paparan obat.
- Dengan metode ini, pasien umumnya dapat menjalani pengobatan dengan efek samping yang lebih ringan dan toleransi yang lebih baik dibandingkan terapi sistemik konvensional.
Hasil Pengobatan yang Sangat Menggembirakan
Hasil setelah menjalani tiga sesi terapi intervensi melampaui harapan. Cairan yang sebelumnya menumpuk di paru-paru Ny. Toh menghilang sepenuhnya, sementara ukuran tumor primer menyusut drastis, dari hampir 4 cm menjadi sekitar 1 cm.
Yang paling mengesankan adalah perkembangan pada metastasis di otak. Tumor yang telah menyebar ke otak menghilang sepenuhnya setelah menjalani pengobatan.

Tetap Optimis di Sepanjang Perjalanan Pengobatan
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Ibu Toh dikenal sebagai sosok yang selalu ceria. Tawa dan semangatnya kerap menghidupkan suasana ruang perawatan, meninggalkan kesan mendalam bagi para dokter dan tenaga medis yang merawatnya.
Ia mengenang bagaimana dirinya menghadapi kanker untuk pertama kalinya beberapa tahun sebelumnya. "Saya tidak pernah larut dalam kesedihan atau hanya berdiam diri di rumah, bahkan ketika seluruh rambut saya rontok akibat kemoterapi lima tahun lalu. Saya tetap berbelanja kebutuhan sehari-hari dan menikmati waktu bersama teman-teman." Bagi sesama pejuang kanker, pesan yang ingin ia sampaikan sangat sederhana: tetap tenang, jangan terlalu banyak berpikir, dan percayalah pada proses pengobatan. "Saat menghadapi kanker, kita harus tetap berpikir positif dan tidak larut dalam kekhawatiran. Jalani saja dengan tenang dan ikuti arahan dokter."
Kini, kondisi Ibu Toh tetap stabil. Perjalanannya menjadi pengingat bahwa bahkan kanker stadium lanjut pun dapat memberikan respons yang baik apabila ditangani dengan kombinasi terapi yang tepat, disertai semangat dan sikap optimis dalam menjalani pengobatan.



