Pria Vietnam Berhasil Mengendalikan Kanker Kandung Empedu melalui Pengobatan Minimal Invasif
Diagnosis yang Tak Terduga
Di usia yang baru 27 tahun, Nguyen Trong Thuy bekerja di sebuah kebun sayuran rumah kaca di Vietnam. Ia merasa sehat dan hanya sesekali mengalami kelelahan yang dianggapnya sebagai akibat dari jam kerja yang panjang. Namun, pada Desember 2017, saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin yang dilakukan setiap enam bulan, dokter menemukan adanya massa pada kandung empedunya. Temuan tersebut tentu menjadi kabar yang sangat mengejutkan. Dokter kemudian menyarankan agar ia menjalani operasi pengangkatan kandung empedu setelah libur Tahun Baru berakhir.

Operasi Mengungkap Masalah yang Lebih Serius
Pada Maret 2018, Thuy menjalani operasi di Viet Duc Hospital, salah satu rumah sakit paling terkemuka di Vietnam, untuk mengangkat massa pada kantung empedu. Namun, selama prosedur berlangsung, dokter menemukan kondisi yang jauh lebih serius. Selain tumor pada kantung empedu, terdapat beberapa lesi lain yang telah muncul di hati. Hasil biopsi yang dilakukan setelah operasi memastikan diagnosis terburuk: kanker kantung empedu yang telah bermetastasis ke beberapa bagian hati.
Kabar tersebut menjadi pukulan berat bagi Thuy dan keluarganya, terutama bagi istri serta kedua orang tuanya. Bahkan setelah menjalani operasi dan dua siklus kemoterapi, beban emosional yang mereka rasakan belum juga berkurang. Saat mengenang kembali kondisinya sebelum didiagnosis, Thuy mengatakan bahwa ia hampir tidak merasakan gejala apa pun. Satu-satunya keluhan hanyalah rasa lelah, yang selama ini ia anggap sebagai akibat dari pekerjaannya yang menguras tenaga, bukan sebagai tanda adanya penyakit.

Menemukan Harapan di Negeri Orang
Saat keluarga merasa hampir kehabisan pilihan, istri Thuy mengetahui tentang St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou melalui seorang teman yang berprofesi sebagai dokter sekaligus penyintas kanker. Temannya tersebut sebelumnya juga sempat menjalani pengobatan di Singapura, namun tidak memperoleh hasil yang diharapkan. Setelah beralih ke terapi minimal invasif di rumah sakit Guangzhou, kondisinya berhasil terkendali dengan baik.
Didorong oleh kisah tersebut, keluarga Thuy tidak membuang waktu. Mereka segera mengunjungi kantor perwakilan St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou di Hanoi untuk menjalani konsultasi awal. Berkat bantuan staf setempat dalam mengurus dokumen visa, Thuy akhirnya berangkat ke Tiongkok pada 10 Mei 2018, didampingi oleh ayahnya.
Menghadapi Kanker Stadium IV
Saat tiba di rumah sakit, kondisi Thuy cukup lemah. Ia mengalami nyeri perut dan kelelahan yang berkepanjangan, yang diyakininya sebagai dampak dari kemoterapi yang telah dijalaninya. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan menyeluruh, dokter penanggung jawabnya, Dr. Hu Ying, menjelaskan hasil diagnosis secara rinci. Kanker kandung empedu yang diderita Thuy telah menyebar ke hati, membentuk dua tumor berukuran 1,7 × 1,9 cm dan 1,1 × 1,3 cm, serta beberapa nodul berukuran lebih kecil.
Meskipun didiagnosis sebagai kanker stadium IV, Dr. Hu Ying memberikan harapan dengan menjelaskan bahwa karena penyebaran penyakit masih terbatas pada hati, kondisi tersebut masih dapat ditangani dengan baik melalui pengobatan yang tepat. Setelah dilakukan evaluasi oleh Tim Multidisiplin (MDT) rumah sakit, para dokter menyusun rencana terapi minimal invasif yang mengombinasikan terapi intervensi dan krioterapi (cryoablation).
2.asiancancer.com/uploads/allimg/2018/09/29/2-153538283.jpg]
Pengalaman Menjalani Krioterapi untuk Pertama Kalinya
Bagi Thuy, krioterapi (cryoablation) merupakan metode pengobatan yang sama sekali baru. Ia mengungkapkan bahwa di tempat tinggalnya, operasi pada dasarnya merupakan satu-satunya pilihan pengobatan kanker yang tersedia. Thuy menjelaskan bahwa prosedur krioterapi dilakukan dengan memasukkan jarum khusus yang menyalurkan gas argon dan helium ke dalam tumor. Tumor terlebih dahulu dibekukan hingga menyerupai bongkahan es, kemudian dipanaskan kembali dengan cepat untuk menghancurkan jaringan kanker—semuanya dilakukan tanpa operasi konvensional. Keunggulan prosedur ini antara lain:
- Dilakukan dengan anestesi lokal, sehingga pasien tetap sadar selama tindakan.
- Nyeri yang dirasakan selama prosedur sangat minimal.
- Perdarahan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan operasi terbuka.
Selama masa perawatan pertamanya di rumah sakit, Thuy menjalani krioterapi yang dikombinasikan dengan terapi intervensi.
Melanjutkan Perjalanan Pengobatan
Setelah menjalani masa pemulihan di rumah selama sekitar dua minggu, Thuy kembali ke rumah sakit pada 10 Juni 2018 untuk menjalani sesi kedua terapi intervensi. Pada tahap ini, ia sudah merasa lebih terbiasa dengan prosedur tersebut. Menurutnya, tindakan yang merupakan salah satu bentuk pengobatan minimal invasif ini umumnya hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit, dengan perdarahan yang sangat minimal serta rasa tidak nyaman yang jauh lebih ringan.
Rawat inap ketiga dilakukan pada awal Juli. Saat itu, kondisi Thuy tampak jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Gejala-gejala yang sempat dialaminya telah berangsur menghilang, berat badannya bertambah 2 kilogram selama berada di rumah, dan energinya pun pulih secara nyata. Hasil CT scan lanjutan membawa kabar yang menggembirakan: dua tumor terbesar di hati telah menyusut sekitar 45%. Untuk mempertahankan dan meningkatkan hasil yang telah dicapai, tim dokter menjadwalkan satu sesi terapi intervensi tambahan selama kunjungan rawat inap tersebut.
Menatap Masa Depan dengan Harapan Baru
Thuy mengaku terkesan dengan seberapa cepat terapi minimal invasif memberikan hasil yang nyata, serta minimnya efek samping dibandingkan kemoterapi sistemik yang pernah dijalaninya sebelumnya. Ia menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas pengobatan yang diterimanya. Di usia 27 tahun, dengan seorang putri berusia satu tahun yang bergantung padanya sebagai tulang punggung keluarga, Thuy bertekad untuk terus berjuang melawan kanker, menjalani pengobatan dengan disiplin, dan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat di masa mendatang.



